Selasa Sore yang baru saja
dibasahi oleh hujan untuk jalan - jalan bagi Occik. Occik yang baru bangun lalu
membuka jendela membuat udara dingin yang sedingin – dinginnya bagi Zaif
sehingga dia menggeliak kayak cacing kepanasan. Eh. Occik mengarah untuk membuka
gorden sebelah kanan kamar dan mendapati Alai yang terlihat sedang keluar dari
pintu rumah sambil memegang pensil.
Occik membuka jendela untuk
menyapa Alai, “Sore, Alai!”
Alai yang mendengar namanya
dipanggil pun mencari arah sumber suara. Alai tersenyum dan berkata, “Mau jalan
sore?”
Occik mengangguk.
Occik melirik Zaif yang
menarik selimutnya untuk menghindari angin dingin yang mengcekam. Kinimatanya
kembali kepada Alai, “Sama maki pade’!!”
“Boleh!” Alai mengangguk
senang. “Oke, kutunggu didepan rumahnu nah!”
Occik membalikkan tubuhnya
menatap Zaif, “Za’, tidak mauko pergi jalan jalan sore sama saya sama Alai
juga?” tawar Occik.
“Hmm… Adai Alai, malaska
pergi – pergi. Eh, tutup mi lagi jendela ya, masih dingin ka!!” decak Zaif
masih dengan mata tertutup.
“tidak pergiko menjual putu
kah? Kenapa ko kah sama Alai?” Tanya Occik menarik selimut dari Zaif.
“Adedeh! Mau a’ tidur,
bagaimana a’ mau bikin putu kalo saya dingin sekali. Nanti tidak enak tonji
putuku. ” Zaif menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh tubuh termasuk
wajahnya.
…
“Mau jalan kemana ini?”
Tanya Alai.
“Pergimaki saja makan
jalangkote’ na Dg. So’na!” Tawar Occik.
Occik dan Alai pun memakan
jalangkote’ Dg. So’na yang warungnya cukup ramai dengan orang yang mukanya
sangat lapar. Ada yang pesan kue lapis, dodoro’ (dodol), kue pawa kacang, dsb.
Setelah lebih 15 buah jalangkote’ mereka makan,
mereka berkeliling menaiki sepeda yang memang disewa. Sambil bersepeda
Occik mencoba angkat bicara soal Zaif pada Alai.
“Ai’, Musuhanko lagi sama
Zaif kah?” Tanya Occik
Alai ketawa, “Memangna
kapan ki kita akur?!”
Occik menggaruk kepalanya
bingung, “Betul juga”
Mereka berhenti bersepeda
karena waktu sewanya sudah habis. Alai mengeluarkan pensil dan buku dari
tasnya.
“Kenapa suka ko
menggambar?” Tanya Occik
Alai mulai menggores
bukunya, “Daripada tidak ada dibikin terus merokok seperti anak muda
kebanyakan, lebih baik menggambar, toh?”
“karena itu ji?”
Alai tersenyum, “Di saat
saya menuangkan mata pensil ini ke buku Saya juga mengeluarkan masalah menjadi
garis garis hitam ini”
Occik berpikir keras hingga
keningnya keriput, “Kayak terapi stres toh?”
“bisa jadi!” Alai
mengangguk ragu.
“Wah bisa itu suruh cobaki
Zaif. Karena hampir setiap hari stress. Lebih lebih kalo tidak lakuki putunya!”
Tutur Occik.
“Apakah masalahnya
sebenarnya?”
“Jadi, Zaif itu malasmi
jual putu karena banyakmi orang tidak mau belli. Banyak orang na pilihkan ki
minum “minuman kekinian” daripada putu. Kalau say jadi Zaif ku foto I itu putu
ya baru kuupload di instagram sama WA”
Alai diam untuk mencerna
setiap perkataan Occik.
“Mngkin butuh ki inovasi
baru putunya!” Balas Alai.
“iya kayakna”
…
Zaif membaca majalah sambil
makan onde onde dan teh hitam tanpa gula. Dia membaca mengenai berita musik.
“Assalamualaikum..
pulangma’!” Teriak Occik masuk ke dalam rumah.
“Hmm..” gumam Zaif dengan
mulut penuh onde onde.
“Kalo ada orang salam harus
dijawab!” oceh Occik sambil menyeruput teh hitam tanpa gula milik Zaif. “WEEK!
PAKKA’!!!”
“Waalaikumsalam..” balas
Zaif. “Kau sendiri minum berdiri, itu lagi minumanku nu ambil. Nu tau mi kalo
Saya minum teh tidak kukasiki gula”
“Hahaha kulupai” kata Occik
“hari ini ada acaranu?”
Tanya Zaif.
“Memangnya kenapa?”
“Bosanga’ di rumah terus,
mau’ a pergi jalan – jalan!” Ujar Occik sembari mengangkat cangkir tehnya.
“Alai na ajakka ya pergi
buat film bede’ di sekolah Occik sebentar malam. Baru ceritanya pilih pilih
tempat yang bagus ditempati syuting. Tapi, mau ko ikut kah?” tanya Occik ragu
sembari duduk di sebelah Zaif.
“Bosanga’ di rumah. Jadi
ikut ma di’?”
“kukira musuhanko sama
Alai?” tutur Occik.
“Memang pernahka akur? Mau
ku ji keluar rumah” ujar Zaif yang keras kepala.
“oke, jam setengah 7 harus
mako siap!”
…
Kedua pasang mata bertatap
sinis layaknya sedang berbicara dalam batin. Occik hanya bisa diam menatap
mereka berdua. Occik melihat lampu lampu rumah dan mendengar suara jangkrik.
Occik harus berhentikan kesepian ini.
“Alai, Zaif boleh ikut?”
tanya Occik
“bosanga’ di rumah baru I
Occik na paksa ka ikut” tutur Zaif. Occik pun mengerutkan kening dan hanya
diam.
Zaif menaikkan alis satu
“Betulan Occik yang paksa? Atau kau yang mau sekali ikut?”
“Betulan astaga. Memang
Occik yang paksa ka!” Zaif melotot.
Alai sambil memutar
mutarkan pensilnya. “Ayo, nanti telat ka!”
“Naik apa?” Tanya Zaif.
“Occik sama saya naik
sepeda, kalau kau terserah!” bilang Alai.
Zaif memutar bola matanya. Ia
berbalik arah untuk menghampiri sepeda Occik yang ada di garasi. Zaif kembali
keluar gerbang rumahnya lengkap dengan sepeda Occik yang mirip ufo ada
digarasi.sedangkan Alai menggunakan sepeda gunung dan Occik bonceng dengan
berdiri di belakang.
“Siap?” Tanya Alai.
“Siap, Cika’” balas Occik
semangat.
Akhirnya mereka pun pergi
entah kemana doakan saja Agang – Agang semoga Alai sama Zaif dapat akur.
Baca juga: Mega Beautiful Malino 2018 Bertabur Kegiatan
Tags
KukerAbsurd

Lucu, Jadi ceritanya ini kayak aku sama kakakku, nggak pernah akur😂
BalasHapussiapa memang kakakmu, unknown? hahaha
Hapuslucu...juga sifa...di tunggu cerita selanjutnya...
BalasHapushaha, kira kira unknown ini siapa?? haha,
HapusAgak kurang ngerti bahasa percakapan nya, btw itu bahasa daerah mana ya?
BalasHapusBahasa Makassar kak
Hapus