Cerita KukerAbsurd(2): Alai Vs Zaif #PART 1





Selasa Sore yang baru saja dibasahi oleh hujan untuk jalan - jalan bagi Occik. Occik yang baru bangun lalu membuka jendela membuat udara dingin yang sedingin – dinginnya bagi Zaif sehingga dia menggeliak kayak cacing kepanasan. Eh. Occik mengarah untuk membuka gorden sebelah kanan kamar dan mendapati Alai yang terlihat sedang keluar dari pintu rumah sambil memegang pensil.
Occik membuka jendela untuk menyapa Alai, “Sore, Alai!”
Alai yang mendengar namanya dipanggil pun mencari arah sumber suara. Alai tersenyum dan berkata, “Mau jalan sore?”
Occik mengangguk.
Occik melirik Zaif yang menarik selimutnya untuk menghindari angin dingin yang mengcekam. Kinimatanya kembali kepada Alai, “Sama maki pade’!!”
“Boleh!” Alai mengangguk senang. “Oke, kutunggu didepan rumahnu nah!”
Occik membalikkan tubuhnya menatap Zaif, “Za’, tidak mauko pergi jalan jalan sore sama saya sama Alai juga?” tawar Occik.
“Hmm… Adai Alai, malaska pergi – pergi. Eh, tutup mi lagi jendela ya, masih dingin ka!!” decak Zaif masih dengan mata tertutup.
“tidak pergiko menjual putu kah? Kenapa ko kah sama Alai?” Tanya Occik menarik selimut dari Zaif.
“Adedeh! Mau a’ tidur, bagaimana a’ mau bikin putu kalo saya dingin sekali. Nanti tidak enak tonji putuku. ” Zaif menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh tubuh termasuk wajahnya.
“Mau jalan kemana ini?” Tanya Alai.
“Pergimaki saja makan jalangkote’ na Dg. So’na!” Tawar Occik.
Occik dan Alai pun memakan jalangkote’ Dg. So’na yang warungnya cukup ramai dengan orang yang mukanya sangat lapar. Ada yang pesan kue lapis, dodoro’ (dodol), kue pawa kacang, dsb. Setelah lebih 15 buah jalangkote’ mereka makan,  mereka berkeliling menaiki sepeda yang memang disewa. Sambil bersepeda Occik mencoba angkat bicara soal Zaif pada Alai.
“Ai’, Musuhanko lagi sama Zaif kah?” Tanya Occik
Alai ketawa, “Memangna kapan ki kita akur?!”
Occik menggaruk kepalanya bingung, “Betul juga”
Mereka berhenti bersepeda karena waktu sewanya sudah habis. Alai mengeluarkan pensil dan buku dari tasnya.
“Kenapa suka ko menggambar?” Tanya Occik
Alai mulai menggores bukunya, “Daripada tidak ada dibikin terus merokok seperti anak muda kebanyakan, lebih baik menggambar, toh?”
“karena itu ji?”
Alai tersenyum, “Di saat saya menuangkan mata pensil ini ke buku Saya juga mengeluarkan masalah menjadi garis garis hitam ini”
Occik berpikir keras hingga keningnya keriput, “Kayak terapi stres toh?”
“bisa jadi!” Alai mengangguk ragu.
“Wah bisa itu suruh cobaki Zaif. Karena hampir setiap hari stress. Lebih lebih kalo tidak lakuki putunya!” Tutur Occik.
“Apakah masalahnya sebenarnya?”
“Jadi, Zaif itu malasmi jual putu karena banyakmi orang tidak mau belli. Banyak orang na pilihkan ki minum “minuman kekinian” daripada putu. Kalau say jadi Zaif ku foto I itu putu ya baru kuupload di instagram sama WA”
Alai diam untuk mencerna setiap perkataan Occik.
“Mngkin butuh ki inovasi baru putunya!” Balas Alai.
“iya kayakna”
Zaif membaca majalah sambil makan onde onde dan teh hitam tanpa gula. Dia membaca mengenai berita musik.
“Assalamualaikum.. pulangma’!” Teriak Occik masuk ke dalam rumah.
“Hmm..” gumam Zaif dengan mulut penuh onde onde.
“Kalo ada orang salam harus dijawab!” oceh Occik sambil menyeruput teh hitam tanpa gula milik Zaif. “WEEK! PAKKA’!!!”
“Waalaikumsalam..” balas Zaif. “Kau sendiri minum berdiri, itu lagi minumanku nu ambil. Nu tau mi kalo Saya minum teh tidak kukasiki gula”
“Hahaha kulupai” kata Occik
“hari ini ada acaranu?” Tanya Zaif.
“Memangnya kenapa?”
“Bosanga’ di rumah terus, mau’ a pergi jalan – jalan!” Ujar Occik sembari mengangkat cangkir tehnya.
“Alai na ajakka ya pergi buat film bede’ di sekolah Occik sebentar malam. Baru ceritanya pilih pilih tempat yang bagus ditempati syuting. Tapi, mau ko ikut kah?” tanya Occik ragu sembari duduk di sebelah Zaif.
“Bosanga’ di rumah. Jadi ikut ma di’?”
“kukira musuhanko sama Alai?” tutur Occik.
“Memang pernahka akur? Mau ku ji keluar rumah” ujar Zaif yang keras kepala.
“oke, jam setengah 7 harus mako siap!”
Kedua pasang mata bertatap sinis layaknya sedang berbicara dalam batin. Occik hanya bisa diam menatap mereka berdua. Occik melihat lampu lampu rumah dan mendengar suara jangkrik. Occik harus berhentikan kesepian ini.

“Alai, Zaif boleh ikut?” tanya Occik
“bosanga’ di rumah baru I Occik na paksa ka ikut” tutur Zaif. Occik pun mengerutkan kening dan hanya diam.
Zaif menaikkan alis satu “Betulan Occik yang paksa? Atau kau yang mau sekali ikut?”
“Betulan astaga. Memang Occik yang paksa ka!” Zaif melotot.
Alai sambil memutar mutarkan pensilnya. “Ayo, nanti telat ka!”
“Naik apa?” Tanya Zaif.
“Occik sama saya naik sepeda, kalau kau terserah!” bilang Alai.
Zaif memutar bola matanya. Ia berbalik arah untuk menghampiri sepeda Occik yang ada di garasi. Zaif kembali keluar gerbang rumahnya lengkap dengan sepeda Occik yang mirip ufo ada digarasi.sedangkan Alai menggunakan sepeda gunung dan Occik bonceng dengan berdiri di belakang.
“Siap?” Tanya Alai.
“Siap, Cika’” balas Occik semangat.

Akhirnya mereka pun pergi entah kemana doakan saja Agang – Agang semoga Alai sama Zaif dapat akur.



6 Komentar

  1. Lucu, Jadi ceritanya ini kayak aku sama kakakku, nggak pernah akur😂

    BalasHapus
  2. lucu...juga sifa...di tunggu cerita selanjutnya...

    BalasHapus
  3. Agak kurang ngerti bahasa percakapan nya, btw itu bahasa daerah mana ya?

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama