PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN,SOSIAL DAN
EMOSI
Perkembangan pendidikan di Indonesia
tidak lepas dari topik
utama obyek pendidikan, yaitu peserta didik. Peserta didik yang merupakan
anak-anak bangsa yang pada saat berikutnya menjadi penentu perkembangan dan
kemajuan bangsa harus mendapatkan porsi pendidikan yang cocok berdasarkan fase
atau masa perkembangannya. Perkembangan anak tidak hanya pada perkembangan
intelektual tetapi juga perkembangan kepribadian.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Personality
atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng
yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum
kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi
individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum
ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan
tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada
situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang
bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak
dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
Delapan tahap/fase perkembangan
kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu
pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan
melalui krisis diantara dua polaritas.Tingkatan dalam delapan tahap
perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia meliputi:
- Kepercayaan lawan Kecurigaan, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. (Masa Oral)
- Otonomi (kemandirian) lawan Perasaan malu dan ragu-ragu, yang berlangsung mulai dari usia
18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. (Masa
anal-mascular/anus-otot)
- Inisiatif (belajar punya
gagasan) lawan Kesalahan, Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai
5 atau 6 tahun. (Masa
genital-locomotor/masa bermain)
- Kerajinan(suka bekerja keras) lawan
Inferioritas(menghindari perasaan rendah diri), terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12
tahun. (tahap
laten)
- Identitas(mengetahui siapa dirinya
dan bagaimana cara untuk terjun ke masyarakat) dan Kerancuan Identitas, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18
atau 20 tahun. (tahap
adolesen/remaja)
- Keintiman (kedekatan dengan
orang lain)lawan Isolasi(menyendiri),
pada masa
dewasa awal yang berusia sekitar 20-30
tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan
orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. (masa dewasa awal)
- Generativitas(sifat melahirkan
sesuatu)lawan Stagnasi(tidak berbuat apa-apa), berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. (masa dewasa tengah)
- Integritas(berhasil melewati
tahap-tahap sebelumnya)lawan Keputusasaan(tidak berguna dan tidak
mampu berbuat apa-apa/terasing dari lingkungannya), berusia sekitar 60 atau 65 ke atas.(tahap usia senja)
Teori Kohlberg (Perkembangan Moral)
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
- Tingkat Satu: Penalaran
Prakonvensional, Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi
nilai-nilai moral- penalaran moral yang dikendalikan oleh imbalan (hadiah)
dan hukuman eksternal.
- Tingkat Dua: Penalaran
Konvensional, merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah
dimana seseorang tersebut menaati stándar-stándar (Internal) tertentu,
tetapi mereka tidak menaati stándar-stándar orang lain (eksternal) seperti
orang tua atau aturan-aturan masyarakat.
- Tingkat Tiga: Penalaran
Pascakonvensional, Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas
benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar
orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif,
menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Teori Piaget (Perkembangan Moral)
Perkembangan
moral menurut Piaget
§ Heteronimus
Pada tahap perkembangan moral ini,menganggap keadilan dan aturan
sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.Dan
biasanya tahap ini menjadi sudut pandang dari anak usia 4-7 tahun.
§ Moralitas
otonimus
Pada tahap ini anak sudah menyadari bahwa hukum dan aturan-aturan
itu diciptakan oleh manusia bahwa menilai tindakan seseorang harus
mempertimbangkan maksud si pelaku dan akibatnya.Anak mengalami fase ini pada
usia 7-10 tahun.
Self-Esteem (Harga diri)
Self-esteem
merupakan bagian dari self-concept(konsep diri)
Self-esteem digunakan para ahli untuk menandakan bagaimana seseorang
mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan bagaimana penilaian
individu tentang penghargaan dirinya, percaya akan kemampuan dirinya, adanya
pengakuan (penerimaan).
- Ketika seorang anak melewati salah satu tahap tersebut, akan terjadi
perkembangan yang kurang utuh, bahkan ada sebuah contoh kasus seorang anak
yang terlalu cepat perkembangan fisiknya, pada akhirnya terjadi kelampatan
dari perkembangan kecerdasannya, dampaknya anak harus merekonstruksi ulang
tahapan yang pernah ia lewati. Jadi kesimpulan yang bisa kami ambil dari
pertanyaan ini adalah bahwa seorang anak baiknya melewati tiap tahap demi
tahap perkembangan yang ada agar perkembangan fisik dan kecerdasannya
berkembang sesuang dengan bertambahnya usia anak (sesuai perkembangannya).
- Dalam perkembangan anak dikenal 3
fase:– Fase oral (dimana anak sering menggunakan mulutnya untuk meraba atau
merasakan sesuatu) –
Fase anal (dimana anak mulai berkembang sistem ekskresinya) – Fase genital (dimana anak pada fase ini sering meraba atau memegang
alat-alat vitalnya).
- Tahap generatif adalah tahap perkembangan ini
seseorang memiliki dorongan dalam dirinya untuk menurunkan nilai-nilai,
sikap-sikap, dan perilaku baik kepada generasi penerusnya. Seseorang yang
tidak mampu menerapkan tahap ini akan mengalami kondisi stagnan, dimana
orang tersebut tidak mampu memberikan warisan nilai atau sikap apapun
kepada generasi penerusnya.
- Kepercayaan atau kecurigaan kemampuan kognitif anak
belum berkembang, karena pada tahap ini anak baru mulai mengenal, mencari
sosok dimana ia merasa nyaman, mencari sosok yang membuatnya percaya,
sehingga muncul rasa nyaman, percaya dari diri sang banyi ini. (usia 0-1
tahun atau sampai 1,5 tahun). Namun usaha orang tua dalam
merangrasang kemampuan berfikir anak dapat dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya
audio, atau visual.
PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress
PERKEMBANGAN SOSIAL
. Perkembangan
Sosial
Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia
dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicori). Syamsuddin (1995:105)
mengungkapkan bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi
makhluk sosial", sedangkan menurut Loree (1970:86) "sosialisasi
merupakan suatu proses di mana individu (terutama) anak melatih kepekaan
dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan
tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku,
seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya".
Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial
merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat),
yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock
(1978:250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan
berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. "Sosialisasi adalah kemampuan
bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial".
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat
diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah,
tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Hurlock (1978), yaitu sebagai berikut.
1. Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat
diterima masyarakat.
2. Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
3. Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap
individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses
sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok
individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka
yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk
mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok.
Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila
berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu
berada dengan orang lain. Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah
orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka
adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga
tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka
tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan
kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu
antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.
Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial
ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah
kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat,
sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan,
pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Orang-orang dengan kecenderungan introvert,
biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala
kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah
kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga
segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan
oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert
biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah-tamah. Seorang ahli
menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe
dari reaksi yang ditunjukkan seseorang. Jika seseorang menunjukkan reaksi yang
terus-menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap
sebagai tipe kepribadiannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suatu kepribadian
yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Dengan
demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta
kebutuhan akan prestasi dan refleksi diri keduanya bisa terpuaskan.
Keluarga merupakan media yang paling penting, dalam proses
sosialisasi. Keluarga merupakan tempat pertama kali ( secara umum ) manusia
mengenal lingkungan sosialnya. Ketia sang anak dilahirkan, tumbuh berkembang
lahir dan rohaninya , maka keluargalah yang pertama kali dikenalnya. Keluarga
inti yang terdiri dari orang tua dan anak ,melakukan kontak primer, mereka
saling berinteraksi, saling memberikan aksi dan respon sosialnya. Dari keluarga
itulah anak akan menerima sistem nilai, aturan, kaidah, kebiasaan, norma dan
kebudayaan dimana mereka tinggal. Anak akan mengamati, anak akan meniru, anak
akan memperhatikan apa yang dikatakan, dilakukan dan diperbuat oleh orang
tuanya.
TUGAS MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN,SOSIAL DAN
EMOSI
Perkembangan pendidikan di Indonesia
tidak lepas dari topik
utama obyek pendidikan, yaitu peserta didik. Peserta didik yang merupakan
anak-anak bangsa yang pada saat berikutnya menjadi penentu perkembangan dan
kemajuan bangsa harus mendapatkan porsi pendidikan yang cocok berdasarkan fase
atau masa perkembangannya. Perkembangan anak tidak hanya pada perkembangan
intelektual tetapi juga perkembangan kepribadian.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Personality
atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng
yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum
kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi
individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum
ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan
tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada
situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang
bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak
dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
Delapan tahap/fase perkembangan
kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu
pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan
melalui krisis diantara dua polaritas.Tingkatan dalam delapan tahap
perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia meliputi:
- Kepercayaan lawan Kecurigaan, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. (Masa Oral)
- Otonomi (kemandirian) lawan Perasaan malu dan ragu-ragu, yang berlangsung mulai dari usia
18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. (Masa
anal-mascular/anus-otot)
- Inisiatif (belajar punya
gagasan) lawan Kesalahan, Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai
5 atau 6 tahun. (Masa
genital-locomotor/masa bermain)
- Kerajinan(suka bekerja keras) lawan
Inferioritas(menghindari perasaan rendah diri), terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12
tahun. (tahap
laten)
- Identitas(mengetahui siapa dirinya
dan bagaimana cara untuk terjun ke masyarakat) dan Kerancuan Identitas, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18
atau 20 tahun. (tahap
adolesen/remaja)
- Keintiman (kedekatan dengan
orang lain)lawan Isolasi(menyendiri),
pada masa
dewasa awal yang berusia sekitar 20-30
tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan
orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. (masa dewasa awal)
- Generativitas(sifat melahirkan
sesuatu)lawan Stagnasi(tidak berbuat apa-apa), berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. (masa dewasa tengah)
- Integritas(berhasil melewati
tahap-tahap sebelumnya)lawan Keputusasaan(tidak berguna dan tidak
mampu berbuat apa-apa/terasing dari lingkungannya), berusia sekitar 60 atau 65 ke atas.(tahap usia senja)
Teori Kohlberg (Perkembangan Moral)
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
- Tingkat Satu: Penalaran
Prakonvensional, Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi
nilai-nilai moral- penalaran moral yang dikendalikan oleh imbalan (hadiah)
dan hukuman eksternal.
- Tingkat Dua: Penalaran
Konvensional, merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah
dimana seseorang tersebut menaati stándar-stándar (Internal) tertentu,
tetapi mereka tidak menaati stándar-stándar orang lain (eksternal) seperti
orang tua atau aturan-aturan masyarakat.
- Tingkat Tiga: Penalaran
Pascakonvensional, Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas
benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar
orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif,
menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Teori Piaget (Perkembangan Moral)
Perkembangan
moral menurut Piaget
§ Heteronimus
Pada tahap perkembangan moral ini,menganggap keadilan dan aturan
sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.Dan
biasanya tahap ini menjadi sudut pandang dari anak usia 4-7 tahun.
§ Moralitas
otonimus
Pada tahap ini anak sudah menyadari bahwa hukum dan aturan-aturan
itu diciptakan oleh manusia bahwa menilai tindakan seseorang harus
mempertimbangkan maksud si pelaku dan akibatnya.Anak mengalami fase ini pada
usia 7-10 tahun.
Self-Esteem (Harga diri)
Self-esteem
merupakan bagian dari self-concept(konsep diri)
Self-esteem digunakan para ahli untuk menandakan bagaimana seseorang
mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan bagaimana penilaian
individu tentang penghargaan dirinya, percaya akan kemampuan dirinya, adanya
pengakuan (penerimaan).
- Ketika seorang anak melewati salah satu tahap tersebut, akan terjadi
perkembangan yang kurang utuh, bahkan ada sebuah contoh kasus seorang anak
yang terlalu cepat perkembangan fisiknya, pada akhirnya terjadi kelampatan
dari perkembangan kecerdasannya, dampaknya anak harus merekonstruksi ulang
tahapan yang pernah ia lewati. Jadi kesimpulan yang bisa kami ambil dari
pertanyaan ini adalah bahwa seorang anak baiknya melewati tiap tahap demi
tahap perkembangan yang ada agar perkembangan fisik dan kecerdasannya
berkembang sesuang dengan bertambahnya usia anak (sesuai perkembangannya).
- Dalam perkembangan anak dikenal 3
fase:– Fase oral (dimana anak sering menggunakan mulutnya untuk meraba atau
merasakan sesuatu) –
Fase anal (dimana anak mulai berkembang sistem ekskresinya) – Fase genital (dimana anak pada fase ini sering meraba atau memegang
alat-alat vitalnya).
- Tahap generatif adalah tahap perkembangan ini
seseorang memiliki dorongan dalam dirinya untuk menurunkan nilai-nilai,
sikap-sikap, dan perilaku baik kepada generasi penerusnya. Seseorang yang
tidak mampu menerapkan tahap ini akan mengalami kondisi stagnan, dimana
orang tersebut tidak mampu memberikan warisan nilai atau sikap apapun
kepada generasi penerusnya.
- Kepercayaan atau kecurigaan kemampuan kognitif anak
belum berkembang, karena pada tahap ini anak baru mulai mengenal, mencari
sosok dimana ia merasa nyaman, mencari sosok yang membuatnya percaya,
sehingga muncul rasa nyaman, percaya dari diri sang banyi ini. (usia 0-1
tahun atau sampai 1,5 tahun). Namun usaha orang tua dalam
merangrasang kemampuan berfikir anak dapat dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya
audio, atau visual.
PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress
PERKEMBANGAN SOSIAL
. Perkembangan
Sosial
Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia
dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicori). Syamsuddin (1995:105)
mengungkapkan bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi
makhluk sosial", sedangkan menurut Loree (1970:86) "sosialisasi
merupakan suatu proses di mana individu (terutama) anak melatih kepekaan
dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan
tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku,
seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya".
Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial
merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat),
yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock
(1978:250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan
berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. "Sosialisasi adalah kemampuan
bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial".
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat
diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah,
tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Hurlock (1978), yaitu sebagai berikut.
1. Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat
diterima masyarakat.
2. Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
3. Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap
individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses
sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok
individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka
yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk
mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok.
Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila
berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu
berada dengan orang lain. Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah
orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka
adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga
tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka
tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan
kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu
antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.
Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial
ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah
kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat,
sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan,
pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Orang-orang dengan kecenderungan introvert,
biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala
kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah
kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga
segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan
oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert
biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah-tamah. Seorang ahli
menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe
dari reaksi yang ditunjukkan seseorang. Jika seseorang menunjukkan reaksi yang
terus-menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap
sebagai tipe kepribadiannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suatu kepribadian
yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Dengan
demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta
kebutuhan akan prestasi dan refleksi diri keduanya bisa terpuaskan.
Keluarga merupakan media yang paling penting, dalam proses
sosialisasi. Keluarga merupakan tempat pertama kali ( secara umum ) manusia
mengenal lingkungan sosialnya. Ketia sang anak dilahirkan, tumbuh berkembang
lahir dan rohaninya , maka keluargalah yang pertama kali dikenalnya. Keluarga
inti yang terdiri dari orang tua dan anak ,melakukan kontak primer, mereka
saling berinteraksi, saling memberikan aksi dan respon sosialnya. Dari keluarga
itulah anak akan menerima sistem nilai, aturan, kaidah, kebiasaan, norma dan
kebudayaan dimana mereka tinggal. Anak akan mengamati, anak akan meniru, anak
akan memperhatikan apa yang dikatakan, dilakukan dan diperbuat oleh orang
tuanya.
panjang gan bacanya hahaha
BalasHapusNamanya makalah satu full hahah
Hapuspanjangan banget gan bacanya bookmarks dulu
BalasHapusHahah bookmark dulu siapa tahu nanti ada tugas makalah
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus