TUGAS MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN



PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN,SOSIAL DAN EMOSI
 Perkembangan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari topik utama obyek pendidikan, yaitu peserta didik. Peserta didik yang merupakan anak-anak bangsa yang pada saat berikutnya menjadi penentu perkembangan dan kemajuan bangsa harus mendapatkan porsi pendidikan yang cocok berdasarkan fase atau masa perkembangannya. Perkembangan anak tidak hanya pada perkembangan intelektual tetapi juga perkembangan kepribadian.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
 
 Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas.Tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia meliputi: 
  1. Kepercayaan lawan  Kecurigaan, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun.  (Masa Oral)
  2. Otonomi (kemandirian) lawan  Perasaan malu dan ragu-ragu, yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun.  (Masa anal-mascular/anus-otot)
  3.   Inisiatif (belajar punya gagasan) lawan  Kesalahan, Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun. (Masa genital-locomotor/masa bermain)
  4. Kerajinan(suka bekerja keras) lawan Inferioritas(menghindari perasaan rendah diri), terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun.  (tahap laten)
  5. Identitas(mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara untuk terjun ke masyarakat) dan Kerancuan Identitas, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. (tahap adolesen/remaja)
  6.  Keintiman (kedekatan dengan orang lain)lawan  Isolasi(menyendiri), pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. (masa dewasa awal)
  7. Generativitas(sifat melahirkan sesuatu)lawan Stagnasi(tidak berbuat apa-apa), berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. (masa dewasa tengah)
  8.  Integritas(berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya)lawan  Keputusasaan(tidak berguna dan tidak mampu berbuat apa-apa/terasing dari lingkungannya), berusia sekitar 60 atau 65 ke atas.(tahap usia senja)

Teori Kohlberg (Perkembangan Moral)
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
  1. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional, Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral- penalaran moral yang dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. 
  2. Tingkat Dua: Penalaran Konvensional, merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah dimana seseorang tersebut menaati stándar-stándar (Internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati stándar-stándar orang lain (eksternal) seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat. 
  3. Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional, Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Teori Piaget (Perkembangan Moral)   
Perkembangan moral menurut Piaget
§  Heteronimus
Pada tahap perkembangan moral ini,menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.Dan biasanya tahap ini menjadi sudut pandang dari anak usia 4-7 tahun.
§  Moralitas otonimus
Pada tahap ini anak sudah menyadari bahwa hukum dan aturan-aturan itu diciptakan oleh manusia bahwa menilai tindakan seseorang harus mempertimbangkan maksud si pelaku dan akibatnya.Anak mengalami fase ini pada usia 7-10 tahun.



Self-Esteem (Harga diri)
Self-esteem merupakan bagian dari self-concept(konsep diri)   Self-esteem digunakan para ahli untuk menandakan bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan bagaimana penilaian individu tentang penghargaan dirinya, percaya akan kemampuan dirinya, adanya pengakuan (penerimaan). 
  1. Ketika seorang anak melewati salah satu tahap tersebut, akan terjadi perkembangan yang kurang utuh, bahkan ada sebuah contoh kasus seorang anak yang terlalu cepat perkembangan fisiknya, pada akhirnya terjadi kelampatan dari perkembangan kecerdasannya, dampaknya anak harus merekonstruksi ulang tahapan yang pernah ia lewati. Jadi kesimpulan yang bisa kami ambil dari pertanyaan ini adalah bahwa seorang anak baiknya melewati tiap tahap demi tahap perkembangan yang ada agar perkembangan fisik dan kecerdasannya berkembang sesuang dengan bertambahnya usia anak (sesuai perkembangannya). 
  2. Dalam perkembangan anak dikenal 3 fase:–     Fase oral (dimana anak sering menggunakan mulutnya untuk meraba atau merasakan sesuatu) –     Fase anal (dimana anak mulai berkembang sistem ekskresinya) –     Fase genital (dimana anak pada fase ini sering meraba atau memegang alat-alat vitalnya). 
  3. Tahap generatif adalah tahap perkembangan ini seseorang memiliki dorongan dalam dirinya untuk menurunkan nilai-nilai, sikap-sikap, dan perilaku baik kepada generasi penerusnya. Seseorang yang tidak mampu menerapkan tahap ini akan mengalami kondisi stagnan, dimana orang tersebut tidak mampu memberikan warisan nilai atau sikap apapun kepada generasi penerusnya. 
  4. Kepercayaan atau kecurigaan kemampuan kognitif anak belum berkembang, karena pada tahap ini anak baru mulai mengenal, mencari sosok dimana ia merasa nyaman, mencari sosok yang membuatnya percaya, sehingga muncul rasa nyaman, percaya dari diri sang banyi ini. (usia 0-1 tahun atau sampai 1,5 tahun).  Namun usaha orang tua dalam merangrasang kemampuan berfikir anak dapat dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya audio, atau visual.


PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress



PERKEMBANGAN SOSIAL
.      Perkembangan Sosial
Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicori). Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial", sedangkan menurut Loree (1970:86) "sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya".
Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock (1978:250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. "Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial".
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (1978), yaitu sebagai berikut.
1.      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat.
2.      Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
3.      Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan orang lain. Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.
Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Orang-orang dengan kecenderungan introvert, biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah-tamah. Seorang ahli menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe dari reaksi yang ditunjukkan seseorang. Jika seseorang menunjukkan reaksi yang terus-menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap sebagai tipe kepribadiannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suatu kepribadian yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Dengan demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta kebutuhan akan prestasi dan refleksi diri keduanya bisa terpuaskan.
Keluarga merupakan media yang paling penting, dalam proses sosialisasi. Keluarga merupakan tempat pertama kali ( secara umum ) manusia mengenal lingkungan sosialnya. Ketia sang anak dilahirkan, tumbuh berkembang lahir dan rohaninya , maka keluargalah yang pertama kali dikenalnya. Keluarga inti yang terdiri dari orang tua dan anak ,melakukan kontak primer, mereka saling berinteraksi, saling memberikan aksi dan respon sosialnya. Dari keluarga itulah anak akan menerima sistem nilai, aturan, kaidah, kebiasaan, norma dan kebudayaan dimana mereka tinggal. Anak akan mengamati, anak akan meniru, anak akan memperhatikan apa yang dikatakan, dilakukan dan diperbuat oleh orang tuanya.


 TUGAS MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN,SOSIAL DAN EMOSI
 Perkembangan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari topik utama obyek pendidikan, yaitu peserta didik. Peserta didik yang merupakan anak-anak bangsa yang pada saat berikutnya menjadi penentu perkembangan dan kemajuan bangsa harus mendapatkan porsi pendidikan yang cocok berdasarkan fase atau masa perkembangannya. Perkembangan anak tidak hanya pada perkembangan intelektual tetapi juga perkembangan kepribadian.
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.
Kepribadian menurut Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu
Teori Erik Erikson
 
 Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas.Tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia meliputi: 
  1. Kepercayaan lawan  Kecurigaan, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun.  (Masa Oral)
  2. Otonomi (kemandirian) lawan  Perasaan malu dan ragu-ragu, yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun.  (Masa anal-mascular/anus-otot)
  3.   Inisiatif (belajar punya gagasan) lawan  Kesalahan, Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun. (Masa genital-locomotor/masa bermain)
  4. Kerajinan(suka bekerja keras) lawan Inferioritas(menghindari perasaan rendah diri), terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun.  (tahap laten)
  5. Identitas(mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara untuk terjun ke masyarakat) dan Kerancuan Identitas, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. (tahap adolesen/remaja)
  6.  Keintiman (kedekatan dengan orang lain)lawan  Isolasi(menyendiri), pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. (masa dewasa awal)
  7. Generativitas(sifat melahirkan sesuatu)lawan Stagnasi(tidak berbuat apa-apa), berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. (masa dewasa tengah)
  8.  Integritas(berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya)lawan  Keputusasaan(tidak berguna dan tidak mampu berbuat apa-apa/terasing dari lingkungannya), berusia sekitar 60 atau 65 ke atas.(tahap usia senja)

Teori Kohlberg (Perkembangan Moral)
Dalam teorinya, kohlberg mengungkapkan bahwa terdapat 3 tahap perkembangan nalar anak, diantaranya :
  1. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional, Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral- penalaran moral yang dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. 
  2. Tingkat Dua: Penalaran Konvensional, merupakan suatu tingkat internalisasi individual menengah dimana seseorang tersebut menaati stándar-stándar (Internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati stándar-stándar orang lain (eksternal) seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat. 
  3. Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional, Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.
Teori Piaget (Perkembangan Moral)   
Perkembangan moral menurut Piaget
§  Heteronimus
Pada tahap perkembangan moral ini,menganggap keadilan dan aturan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak berubah dan lepas dari kendali manusia.Dan biasanya tahap ini menjadi sudut pandang dari anak usia 4-7 tahun.
§  Moralitas otonimus
Pada tahap ini anak sudah menyadari bahwa hukum dan aturan-aturan itu diciptakan oleh manusia bahwa menilai tindakan seseorang harus mempertimbangkan maksud si pelaku dan akibatnya.Anak mengalami fase ini pada usia 7-10 tahun.



Self-Esteem (Harga diri)
Self-esteem merupakan bagian dari self-concept(konsep diri)   Self-esteem digunakan para ahli untuk menandakan bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Evaluasi ini akan memperlihatkan bagaimana penilaian individu tentang penghargaan dirinya, percaya akan kemampuan dirinya, adanya pengakuan (penerimaan). 
  1. Ketika seorang anak melewati salah satu tahap tersebut, akan terjadi perkembangan yang kurang utuh, bahkan ada sebuah contoh kasus seorang anak yang terlalu cepat perkembangan fisiknya, pada akhirnya terjadi kelampatan dari perkembangan kecerdasannya, dampaknya anak harus merekonstruksi ulang tahapan yang pernah ia lewati. Jadi kesimpulan yang bisa kami ambil dari pertanyaan ini adalah bahwa seorang anak baiknya melewati tiap tahap demi tahap perkembangan yang ada agar perkembangan fisik dan kecerdasannya berkembang sesuang dengan bertambahnya usia anak (sesuai perkembangannya). 
  2. Dalam perkembangan anak dikenal 3 fase:–     Fase oral (dimana anak sering menggunakan mulutnya untuk meraba atau merasakan sesuatu) –     Fase anal (dimana anak mulai berkembang sistem ekskresinya) –     Fase genital (dimana anak pada fase ini sering meraba atau memegang alat-alat vitalnya). 
  3. Tahap generatif adalah tahap perkembangan ini seseorang memiliki dorongan dalam dirinya untuk menurunkan nilai-nilai, sikap-sikap, dan perilaku baik kepada generasi penerusnya. Seseorang yang tidak mampu menerapkan tahap ini akan mengalami kondisi stagnan, dimana orang tersebut tidak mampu memberikan warisan nilai atau sikap apapun kepada generasi penerusnya. 
  4. Kepercayaan atau kecurigaan kemampuan kognitif anak belum berkembang, karena pada tahap ini anak baru mulai mengenal, mencari sosok dimana ia merasa nyaman, mencari sosok yang membuatnya percaya, sehingga muncul rasa nyaman, percaya dari diri sang banyi ini. (usia 0-1 tahun atau sampai 1,5 tahun).  Namun usaha orang tua dalam merangrasang kemampuan berfikir anak dapat dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya audio, atau visual.


PERKEMBANGAN EMOSI
Menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self In hi sovert behavior.”
Menurut James & Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi pada diri individu.
1. Ciri- ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif (tidak tetap)
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
2. Pengelompokkan Emosi
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu :
a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
b. Emosi psikis, di antaranya adalah:
• Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran.
• Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
• Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika moral.
• Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
• Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya.
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” . Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
4. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosial.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya. Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress



PERKEMBANGAN SOSIAL
.      Perkembangan Sosial
Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicori). Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial", sedangkan menurut Loree (1970:86) "sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya".
Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock (1978:250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. "Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial".
Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (1978), yaitu sebagai berikut.
1.      Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat.
2.      Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.
3.      Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.
Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan orang lain. Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.
Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Orang-orang dengan kecenderungan introvert, biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah-tamah. Seorang ahli menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe dari reaksi yang ditunjukkan seseorang. Jika seseorang menunjukkan reaksi yang terus-menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap sebagai tipe kepribadiannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suatu kepribadian yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Dengan demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta kebutuhan akan prestasi dan refleksi diri keduanya bisa terpuaskan.
Keluarga merupakan media yang paling penting, dalam proses sosialisasi. Keluarga merupakan tempat pertama kali ( secara umum ) manusia mengenal lingkungan sosialnya. Ketia sang anak dilahirkan, tumbuh berkembang lahir dan rohaninya , maka keluargalah yang pertama kali dikenalnya. Keluarga inti yang terdiri dari orang tua dan anak ,melakukan kontak primer, mereka saling berinteraksi, saling memberikan aksi dan respon sosialnya. Dari keluarga itulah anak akan menerima sistem nilai, aturan, kaidah, kebiasaan, norma dan kebudayaan dimana mereka tinggal. Anak akan mengamati, anak akan meniru, anak akan memperhatikan apa yang dikatakan, dilakukan dan diperbuat oleh orang tuanya.










































5 Komentar

Lebih baru Lebih lama