Penyalin Cahaya: Menguras, Menutup, Mengubur Kekerasan Seksual

 

"Menguras, menutup, dan mengubur"

Keingat adegan fogging kan yang beberapa kali kedengar tapi belum ngeh. Ternyata ada makna. Aku kira hanya sebatas berlatar belakang lagi suasana DBD. Baru saja nonton penyalin cahaya / photocopier. Kalau misal ke tempat fotcop ni mas mbaknya bakal dipanggil mas/mbak penyalin cahaya. Widih.. "Pergi kemana?' "Tempat penyalin cahaya" widih.. (2)

Awal lihat foto scene berjubah hijau tu mulai tertarik. Dari sutradara dan pemain meningkat penasarannya. Sampai ngeborong 16 piala citra FFI penasaran tambah menjadi. Hingganya lagi lihat story' yang ikut JAFF Jogja, satu bioskop pada tepuk tangan.. asli penasaran tambah menjadi jadi jadi dan kaga sabar nunggu Januari 2022,.

First impression lihat trailer, awalnya kaya tidak mengira kalau ini akan mengangkat pelecahan seksual. Kiranya bakal jadi film misteri teka-teki yang menebak siapa pelaku yang ngerjain Suryani hingga mabok tak sadarkan diri. Selain itu ada isu yang berkaitan juga dengan dengan fenomena menyalahkan korban hingga minta pertanggungjawaban/ minta maaf (victim blaming), penyalahgunaan kekuasaan (power of abuse), diperlihatkan bagaimana mental health pada penyintas kekerasan seksual yang tidak mandang gender lelaki pun jadi korban fetish. 

Ironinya salah satu tim dari film ini adalah pelaku pelecehan seksual pada masa lalu. Digadang-gadang yaitu Co-writer berinisial HP. Gila si.. Respect buat Mas Wregas selaku sutradara dan penulis, Rekata Studio dan Kaninga Pictures dalam menanggapi soal tersebut. Mereka sudah mengambil langkah dengan tidak memihak, membela terduga pelaku hingga namanya dihapus dari credit film. 

Diluar kontroversinya, asli Penyalin Cahaya salah satu film Indonesia yang bagus banget, level up banget dengan alur yang rapi. Film yang mencengkeram, kaya, dan jenius. Akting Shinena Cinnamon joss.. dari dulu masih lihat dia sebagai pemeran pembantu di ftv-ftv. Akting luar biasa oleh pemeran lainnya Chicco, Giulio, Jerome, Lutesha, dan Dea Panendra. Di sepanjang film, kita juga diajak masuk ke dalam emosi dan pikiran Sur yang kacau saat memperjuangkan hak dan keberanian. Karakter cowonya juga buat gregetan kaga bapaknya, dosennya, pengacara, supir taksi, dan si Amin Kang penyalin cahaya. Bisa dilihat pelaku yang punya power of abuse bisa seseram itu. Tapi rasa kepercayaan, kerja sama dan keberanian lah dibantu bukti yang ada bisa mengalahkan hal tersebut. Dan jawabannya dengan menggunakan mesin fotokopi. 

Tapi jujur saja ni saya merasa merinding saat mengetahui penulis naskah tentang pelecehan adalah seorang terduga pelaku. Apalagi sejak awal kampanye filmnya adalah memerangi kekerasan seksual. Ini sama halnya pada sebuah isu tertentu terus mendatangkan narasumber tetapi bukan yang pernah jadi korban, tapi yang jadi pelaku sebelumnya. Kita tidak tahu si apa yang terjadi pas produksi bagaimana hingga keterlibatan co-writer tersebut. Tapi ya film ini adalah kerja keras 1 tim. Karya yang baik tetaplah diakui sebagai karya yang baik. Walaupun ya tetap ada asumsi-asumsi negatif si. Terpikir apakah ada self-insert co-writer dalam penulisan entah andil penulisannya bagian mana. 

Menonton atau tidak menonton adalah keputusan personal. Tetapi yang sama-sama kita sadari adalah isu pelecehan seksual sangat kudu diperangi. 

"Dalam kegelapan aku tetap memilih bekerja"


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama