Seperti diakhir postingan sebelumnya, kalau sudah jadi sarjana itu kaya ada rasa pantas tidak kita dapat gelar ini. Dan aku rasa kaya tidak pantas ya hahah. Itu kenapa setelah Yudis ada rasa senang tapi rasa beratnya itu tidak berhenti. Karena dari gelar ini memperlihatkan seseorang yang beretika luhur. Seorang yang bukan hanya sekadar mengajar dan memberi nilai tetapi ada kata "didik". Apalagi Saya jurusannya Pendidikan Guru Sekolah Dasar alias PGSD hahah. Makin lulus makin kaya sadar apa Aku cocok menjadi seorang guru di sekolah dasar? Saya asli tak berpikir demikian. Kelakuan saya sehari hari tidak mencerminkan orang ber S.Pd. Sangat berbanding dengan teman-teman kuliah yang Aku kenal memang dari kesehariannya saja sudah cocok jadi guru. Bakal kelihatan kan auranya. Pasti ada bertanya kenapa ambil jurusan ini jika memang tidak ingin? Saya juga bertanya demikian diakhir semester hahaha. Mungkin ini dibilang takdir. Bahas takdir, buat terpikir untuk hidup mengalir saja. Tanpa ada mimpi, tujuan, cita-cita untuk tergebu-gebu dapatinnya. Nanti juga akan ada pemberian Tuhan dan mungkin itu baik. Menurut agang ini mindsetnya, mindset bodoh atau mindset pasrah?
Diatas hasil screenshootan skripsi hahah.
Kalau dibilang momen kapan dibuat sadar dan merasa sangat tidak cocok itu pas magang. Sangat mengesankan. Dulu itu dibilang mengajar merasa fine-fine saja. Mulai dari SMA sudah tutor sebaya fisika, pas kuliah beri pelatihan UKS di mata kuliah PKPD, dan mengajar juga Dokcil di SD-SD sampai KKN mengajar lagi calistung kepada warga yang buta aksara. Pas magang saja yang buat ketrigger, istilahnya kalau kata orang masa kini hahah. Menjadi guru kurang lebih 2 minggu dengan tiap harinya bergiliran merasakan suasana setiap kelas. Saat itu sangat sadar dan berat woah betapa menjadi guru itu sulit terutama guru sekolah dasar. Bayangkan bagaimana keterampilan seorang guru dalam mengelola waktu dengan menyesuaikan RPP atau rencana pembelajaran yang sudah dibuat. Suasana mengajar di sekolah dasar itu sangat suprise si. Ada ada saja terjadi yang bisa jadi RPP yang sebelumnya telah direncakan, malah keluar dari itu. Makanya seorang guru itu harus punya pikiran yang terus berjalan alias cerdik hahah dan mempunyai plan plan alternatif. Dan mengapa ada berbagai terbit buku soal "ciri ciri pendidik" dsb.
Menjadi guru bukan hanya soal mengajar tapi mendidik, kalau dibilang Aku memberikan ilmu bisa bisa saja tapi bagaimana untuk menjadi seorang pendidik ketika menghadapi berbagai macam anak SD yang sifatnya unik-unik hahah. Bayangkan dalam satu kelas menghadapi anak yang tidak ingin menulis, tidak ingin mengerjakan tugas, main main Mulu, belum lagi ada menangis hahahah, belum lagi ngadu Mulu, belum lagi misal bagaimana caranya kan misalnya saya memakai metode permainan, bagi beberapa anak excited karena bermain, tetapi ada juga anak yang sifatnya tidak suka bermain. Atau sebaliknya memakai metode yang casual tapi berkelompok tapi sisi lain siswa ternyata lebih suka bekerja individual. Paling lucu adalah misal kalau ada yang berantem, ada yang nangis, ada yang ngadu.. kalau ada kamera mungkin saya akan angkat tangan.kalau dibilang ingin seru seruan ayo, saya juga semangat hahah, tapi kalau menjadi model seorang pendidik sesungguhnya yang punya rasa peduli, rasa keibuan. Aku tak bisa hahah. Peduli sama diri sendiri saja kurang hahah. Orangnya gengsian, minderan masa bodoh pula haha. Atau misal kalau ada sepupu atau keponakan yang berantem dibiarin saja hahah.
Ingat bener pas SMA ketika ditanya ambil jurusan apa, ada 2 guru yang bilang tidak cocok. Guru matematika dan guru fisika. Mereka bahkan bilang kenapa tidak ambil yang sains. Sebenarnya jurusan ini juga bukan semerta merta pilihan sendiri. Dari dulu memang tidak tahu ingin jadi apa sebenarnya. Bukannya tidak tahu si. Dulu juga pas ditanya maunya apa ada 3, jurusan IT tapi kaga diijinin nah kebukti kan jaman sekarang profesi IT itu luas banget bahkan banyak kelas kursus dibuka untuk mantepin cv dan portofolio untuk apply pekerjaan. Desain interior tapi di Makassar kayanya kaga ada dan jurusan sains terapan karena seru saja kayanya kalau jadi peneliti, tapi kata keluarga kalau selesai kaga bisa jadi guru. Siapa juga mikir ambil sains terapan tapi jadi guru hahahh. Memang di lingkungan masih mikir profesi yang dikatakan "profesi" itu tentara, polisi, dokter, suster dan guru. Sulit memang. Kalau memang ditanya minat, ya minatnya desain, gambar, menulis seperti ini. Tapi kan kadang minat hanya hobi saja. Pikirnya begitu. Jadi iya iyain saja. Berpikir siapa tahu memang bisa. Tapi ternyata sampai selesai kaya tidak bisa hahahha. Memang kata orang benar kita akan tahu apa yang disuka dan tidak disuka ketika menjalaninya.
Dan itu baru magang dirasanya, waduh bayangkan seminggu seperti setiap harinya. Sebelumnya mengajar Dokcil tidak sebegininya, mungkin karena pas itu juga jumlah anak sedikit dan karakter anaknya juga pada patuh patuh. Kalau memang bisa milih ngajar jadi seperti ini saja, sedikit siswa, ngajarnya bukan full pagi sampai sore, mapel hanya bergantung mau khusus soal Dokcil, atau bahasa Inggris mengingat jurusan PGSD cabang bilingual haha, sains IPA praktek praktek, main recorder/ pianika mau mau saja. Andaikan 🙃. Kalau kelas biasa kan banyak jumlahnya terus unik beragam karakteristik anak. Terus mengajarnya semua mapel selain agama dan olahraga dari pagi hingga siang atau sore selama 5-6 hari.
Tapi kalau misal tidak jadi guru, saya akan ngapain? Hahah pertanyaan di kepala setiap harinya. Kalau kata Bryan Furi si tidak ada yang mengalahkan kenyataan, so kamu harus mencintai kenyataanmu. Mari jadi badut ngalir saja ikut Si Takdir mau dikemanain haha.
Update: si badut ikut wisuda.