Namamu Kata Pertamaku: Karakter Si Bisu




Baru ngeposting lagi. Telat ya telat. Ada film Indonesia yang berlatar belakang Makassar yang membuat saya tertarik untuk nonton. Ceritanya ada karakter si bisu (Adipati Dolken) yang ingin ke Toraja yang katanya disana ada orang yang dapat membuat dia bisa bicara normal.



Sumber: Idntimes
 Namun, karena keadaannya yang bisu dan faktor skrip film (hihi), si bisu terlantar dan akhirnya sampai di Bontojai, Kab. gowa. Haha. Saya awalnya pikir jauh juga Si Bisu berjalan dari Wajo sampainya di Bontojai. Hihi. Aku awalnya bertanya tanya mengapa bukan aktor/artis asal Makassar asli saja yang main?
Tapi, setelah nonton akhirnya Saya mengambil opini bahwa karena karakter dan emosi dari Si Bisu memerlukan seorang aktor yang betul - betul totalitas agar sampai di hati penonton. Sehingga, Adipati Dolken sebagai Si Bisu adalah pilihan tepat. Jangan diragukan lagi. Faktanya bahwa dalam proses film ini Adipati didampingi dua guru SLB dan satu orang bisu. Sutradara dari film ini adalah Rere art2tonic.


Lanjut ceritanya, selesai di pasar Bontojai itu Si Bisu bertemu dengan Yunus (Bogel Apriansyah) yang banyak membantunya di mesjid.

 Si Bisu juga dekat dengan Nila (Rania Putrisari), namun dia tak dapat mengungkapkan rasa cintanya.

Instagram: Rania Putrisari

iNSTAGRAM: RANIA PUTRISARI

 Sehingga, dia berlatih untuk mengucapkan "Aku Cinta Kamu" untuk si Nila. Si Bisu bisa sampai di Lombasang karena ketinggalan bis saat dia dan penumpang lainnya sehingga untuk makan. Padahal barang-barangnya termasuk uang ada di bis. Nah Selama tinggal di masjid Si Bisu aktif dalam kegiatan masjid penampilannya juga berubah. Karena telah berlatih mengucapkan 3 kata itu, dia pun siap untuk mengucapkannya kepada Nila. Tetapi, ketika dia tiba di depan rumah Nila. Ia melihat Nila sedang mengobrol dengan penyanyi lagu PSM itu yang tak lain kawan lama Nila.

Film ini juga berlatar tempat di Kecamatan Lombasang, Kab. Gowa. Film ini ditayangkan pada 29 November 2018 lalu. Penampilan Adipati berubah 180°. Keren. Pesan yang bisa saya ambil dalam film ini adalah doa tidak ada yang mustahil.  Film ini menggandeng produser Hendra Sirajuddin dan Iqbal DJ. Mantul. Sedih dapat. Soundtracknya juga kusuka terutama yang berjudul "Tak Sempurna". Recomended. Awalnya, memang ada beberapa scene yang boring. Tapi, endingnya itu. Wah. Plot twist. Ada beberapa ibu - ibu yang menangis jamaah. Sayangnya, hari itu studionya sepi hehe. 

Menurut flick magazine juga tercatat 61.872 penonton (17 Desember 2018). Awalnya, Aku kira genre romance. Tapi, ternyata berbau religi. Tapi, memang ada beberapa scene juga yang terlalu drama. Mirip sinetron di Indosiar. Ada pula Dr Syahriar Tato sebagai koko koko penjual. Senyum - senyum ku melihatnya ketika scene, wah di Malino, wah di Lombasang, wah di Bontojai, wah kayak kukenal itu yang jadi figuran..


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama