Makalah : Karakteristik dan Sifat Pendidikan Seni di SD

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah – Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Adapun penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan seni. Di samping itu, penulis juga berharap makalah ini mampu memberikan kontribusi dalam menunjang pengetahuan para mahasiswa khususnya dan pihak lain pada umumya.

Selama pembuatan makalah pun penulis juga mendapat banyak dukungan dan juga bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu penulis hanturkan banyak terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang berguna bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri.

                                                                     Makassar,11 April 2017

                                                                                                      Penulis 




DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A.    Karakteristik Pendidikan Seni di SD......................................... 2
B.     Sifat Dasar Pendidikan Seni di SD............................................ 4

BAB III PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 8



BAB I
PENDAHULUAN 
1.        Latar Belakang
Seni mulai dikembangkan dalam dunia pendidikan sejak tahun 1976. Kehadiran seni dalam dunia pendidikan ditunjukkan dalam suatu mata pelajaran seni yang masuk ke dalam kurikulum. Seni yang tertuang dalam mata pelajaran berupa pendidikan seni rupa, pendidikan seni tari, pendidikan seni musik dan lain sebagainya. Dalam dunia pendidikan secara tidak langsung sebenarnya telah menerapkan dan menanamkan adanya pendidikan seni sebagai salah satu strategi dalam proses pembelajaran, baik sejak TK sampai dengan SMA.
Pendidikan seni memiliki kedudukan yang setara dengan mata pelajaran lain dalam lingkup program pendidikan. Namun dalam pendidikan seni penekanannya dimaksudkan untuk membantu pertumbuhan fisik dan mental peserta didik. Sehubungan dengan adanya perbedaan sifat dan karakteristik peserta didik yang satu dengan yang lain, maka pendidikan seni pun perlu memperhatikan hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan tujuan pendidikan seni yang tidak ditujukan untuk melatih keterampilan peserta didik agar pandai dalam berkarya seni, melainkan lebih ditekankan sebagai sarana atau alat pendidikan. Dalam membelajarkan seni kepada anak Sekolah Dasar setidaknya guru harus mengetahui pemahaman kemampuan dasar dan karakteristik seni pada anak Sekolah Dasar. Hal ini dikarenakan kemampuan peserta didik tiap jenjang umurnya selalu berbeda begitu pula karakteristik seni yang dimilikinya.

1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa saja karakteristik pendidikan seni di SD?
2.    Bagaimanakah sifat dasar pendidikan seni di SD?


3.     
BAB II
PEMBAHASAN

A.Karakteristik Pendidikan Seni di SD
Pendidikan Seni dapat dilaksanakan melalui berbagai jalur, baik formal maupun non formal. Kegiatan seni tidak akan dapat berdiri sendiri, karena dalam realitanya kegiatan pendidikan selalu berkaitan dengan berbagai hal lain di sekitarnya. Keterakitan tersebut tercermin salah satunya pandangan bahwa pendidikan sebagai bentuk interaksi sosial masyarakat seni membaur, melebur, dan terkait dengan berbagai hal dalam keseharian masyarakat.
Dalam konsep pendidikan nasional, pendidikan harus berfungsi untuk memungkinkan setiap manusia mempertahankan hidupnya, mampu mengembangkan diri dan hidupnya serta membangun masyarakatnya. Beberapa pandangan para ahli tentang pendidikan seni di sekolah adalah diutamakan untuk penanaman nilai estetis melalui pengalaman kreatif dan apresiatif. Menurut Lenderman dan Lindermen (1984) pendidikan seni sebagai pendidikan estetis dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman perceptual, cultural, dan artistic. Pengalaman perceptual diberikan melalui proses berpikir peserta didik meliputi imajinasi, model penciptaan suatu karya dan ekspresi kreatif. Pengalaman cultural diperoleh melalui kegiatan mempelajari dan memahami bentuk – bentuk peninggalan seni di masa lampau dan masa sekarang. Sedangkan pengalaman artistik dikembangkan melalui pengalaman dan penghayatan pada suatu karya seni dan apresiasi seni.
Ruang lingkup pendidikan seni di SD pada dasarnya meliputi aspek pengetahuan seni, apresiasi seni dan pengalaman kreatif. Berkaitan dengan hal tersebut, seperti kita ketahui bahwa peserta didik SD memiliki karakteristik dengan tingkat perkembangan berpikir sekuensial / konkret menuju ke tingkat berpikir abstrak. Sedangkan pelaksanaan pendidikan seni yang saat ini berlaku lebih menekankan praktik sebagai bentuk kreatif peserta didik dan teorinya hanya sebagai apresiasi. Dengan demikian karakteristik pendidikan seni di SD yaitu bersifat pengetahuan dan apresiasi yang diintegrasikan dengan pengalaman kreatif peserta didik.
Seni mulai dikembangkan dalam dunia pendidikan sejak tahun  1976. Kehadiran seni dalam dunia pendidikan ditunjukkan dalam suatu mata pelajaran seni yang masuk kedalam kurikulum. Seni yang tertuang dalam mata pelajaran diantaranya berupa pendidikan seni tari, seni rupa, pendidikan seni musik dan sebagainya. Dalam dunia pendidikan secara tidak langsung sebenarnya telah menerapkan dan menanamkan adanya pendidikan seni sebagai salah satu strategi dalam proses pembelajaran. Baik sejak TK sampai dengan SMA.
Pendidikan seni memiliki kedudukan yang setara dengan mata pelajaran lain dalam lingkup program pendidikan. Namun dalam pendidikan seni penekanannya dimaksudkan untuk membantu pertumbuhan fisik dan mental peserta didik.
Sehubungan dengan adanya perbedaan sifat dan karakteristik peserta didik yang satu dengan yang lain, maka pendidikan seni p perlu memperhatikan hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan tujuan pendidikan seni yang tidak ditujukan untuk melatih keterampilan peserta didik agar pandai dalam berkarya seni. Melainkan lebih ditekankan sebagai sarana atau alat pendidikan.
Sebagai sarana pendidikan, pendidikan kesenian di SD dicurahkan untuk bermain. Kegiatan ini sebagai ekspresi kreatif dalam membantu tumbuh kembang peserta didik. Pendidikan seni sebagai sarana ekspresi, kreatif peserta didik juga mampu mengembangkan kepekaan apresiasi estetik dan membentuk kepribadian seseorang seutuhnya secara seimbang baik lahir – batin, jasmani – rohani, sifat budi pekerti luhur sesuai dengan lingkungan dan konteks sosial budaya Indonesia. Dengan demikian sifat dan karakteristik pendidikan seni perlu diketahui dan dipahami lagi bagi seseorang guru dalam pelaksanaan pendidikan seni.



B. Sifat Dasar Pendidikan Seni di SD
Seni pada umumnya adalah proses dari manusia dalam arti sinonim dari ilmu (pengetahuan) yang dimiliki manusia. Dewasa ini seni biasa dilihat dalam intisari ekpresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.
Keindahan tersebut tumbuh Karena kesadaran pada diri seseorang. Filsuf mengatakan keindahan tumbuh karena rasa kekaguman. Psikologi mengatakan keindahan muncul karena keinginan untuk memiliki sedangkan dilain pihak paham rasionalisme mengatakan keindahan timbul karena kekuatan pikir dan khayal manusia.
Keindahan menjadi bagian penting di dalam kehidupan manusia. Keindahan juga bersifat relative sesuai dengan tingkat pendidikan, tingkat kecerdasan dan tingkat budaya seorang maupun bangsa.  Dalam sejarah budaya manusia kebutuhan yang hanya sekedar benar atau salah, tepat atau tidak tepat, banyak atau sedikit akan tetapi juga ada kebutuhan indah dan tidak indah.
Dalam pendidikan seni di tingkat SD, seni memiliki keterkaitan yang sama, sehubungan dengan hal tersebut, untuk mempermudah pelaksanaan pendidikan, kita harus memahami sifat – sifat dasar seni itu sendiri. Berdasarkan telaah terhadap teori – teori seni disimpulkan bahwa seni memiliki sekurang-kurangnya lima ciri yang merupakan sifat dasar seni. Sifat dasar seni tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Kreatif
Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk mengubah sesuatu yang ada menjadi baru dan orisinil. Contoh: Batu yang diubah menjadi patung, batu diubah menjadi perhiasan, tanah liat dapat menjadi keramik, suara diubah menjadi musik, gerakan.
2. Individual
Sifat individual dalam seni diartikan sebagai karya seni yang memiliki ciri perseorangan dari penciptanya. Sebagai contoh lagu - lagu yang diciptakan Ebiet G Ade, sangat berbeda dengan lagu – lagu ciptaan Dewiq, Titik Puspa, atau pun yang lainnya. Atau lukisan Afandi sangat berbeda dengan lukisan – lukisan Basuki Abdullah, Raden Saleh, Popo Iskandar, Picasso Van Googh, maupun pelukis lainnya. Ciri khas pribadi inilah yang merupakan identitas dari karya merdeka.

    3. Perasaan
Dalam membuat karya seni selalu melibatkan emosi dan jiwa. Selain pencipta, penikmat juga menggunakan kepekaan perasaan untuk dapat menikmati sebuah karya, baikan kepekaan perasaan yang paling dalam. Sebuah lagu yang diciptakan melalui seorang seniman, kemudian dibawakan seorang penyanyi yang menjiwai isi lagu itu. Tampil dalam suara dan penampilan yang seirama, maka para pendengar lagu itu akan, tergugah hatinya. Semua itu jika ada kesungguhan dalam menggunakan alat indera rasa seperti yang akan dilakukan pencipta dan penyanyinya. Sebagai contoh logo “imagine” karya John Lennon merupakan ungkapan kepeduliannya terhadap nilai –nilai humanism dan perdamaian sehingga menggugah perasaan siapapun yang mendengar.
  4. Abadi atau Keabadian
Sesungguhnya semua perbuatan manusia memiliki sifat demikian, yaitu perbuatan baik atau tercela yang sudah dilakukan tidak dapat dibatalkan. Sesorang yang telah berjasa kepada kita, sosoknya akan selalu melekat sampai akhir hayat, walaupun mungkin bendanya sudah hilang ditelan masa. Jika membuat karya seni memiliki tujuan estetika atau keindahan, hendaknya orang yang menikmatinya turut berlatih juga untuk berbuat sesuatu yang indah dan terpuji. Maka layaklah seorang seniman mendapat penghargaan ketika ada seorang  yang berbuat sesuatu kebaikan sebagai efek penghayatan dari karyanya, misalnya dari cerita film, novel, syair lagu, dan lain - lain. Tetapi sebaliknya , jika seniman dalam membuat karyanya menyampaikan pesan negative maka seni yang memiliki kesan estetis mungkin akan hilang.

      5. Universal
Seni tidak mengenal batas waktu, bangsa bahasa dan lain-lain. Sebagai contoh, semua orang yang berlainan bahasa akan tertawa terbahak – bahak ketika melihat tingkah laku badut sirkus yang sangat lucu. Atau seorang yang melihat gambar karikatur akan tersenyum tanpa mengetahui siapa pembuatannya.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:

Sebagai sarana pendidikan, pendidikan kesenian di SD dicurahkan untuk bermain. Kegiatan ini sebagai ekspresi kreatif dalam membantu tumbuh kembang peserta didik. Pendidikan seni sebagai sarana ekspresi, kreatif peserta didik juga mampu mengembangkan kepekaan apresiasi estetik dan membentuk kepribadian seseorang seutuhnya secara seimbang baik lahir – batin, jasmani – rohani, sifat budi pekerti luhur sesuai dengan lingkungan dan konteks sosial budaya Indonesia. Dengan demikian sifat dan karakteristik pendidikan seni perlu diketahui dan dipahami lagi bagi seseorang guru dalam pelaksanaan pendidikan seni.




DAFTAR PUSTAKA

Usman, Hikmawati.et all. “Bahan Ajar Pendidikan Seni”. UNM Makassar.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama