Dahulu ketika masih duduk di bangku
SD, saya masih belum terpikirkan untuk menjadi seperti sekarang. Pada waktu itu
saya masih terlalu menikmati masa kanak-kanak saya. Bermain kelereng, barbie,
mengejar layangan putus, main masak masak. main super mario di nintendonya Alil,
semua hal sederhana yang sangat membuat saya bahagia pada masa itu.
Semua kebutuhan saya waktu itu
alhamdulillah tercukupi. Bahkan ketika saya minta uang jajan pun, mereka selalu
memenuhi permintaan saya. Butuh uang jajan, tinggal merayu orang tua.
“Maak, eroka’ malli’ (mau belanja).”
Rengek saya dengan manja dahulu ketika meminta uang jajan.
“Apa la nu balli? (Apa mau kau beli?)”
“eroka’ malli sagu – sagu (masih
ingat tidak sagu yang berbentuk lingkaran putih itu), sama beli kacang polong,
sama Anu juga Mak. Kemarin pinjanga’ Songkolo’ bandang na 2 Dg. naisa. (ini
real -_-)”
Tanpa basa-basi lagi, orang tua saya
langsung mengambil dompet dan mengeluarkan dua lembar uang seribuan kemudian
diberikan kepada saya (Rp. 2000 ini cukup. duluuuu).
“Koccikangi baji’ baji’. Tugguruki
Antu (Dikantongi baik-baik, biar tidak jatuh”
Setelah mengucapkan terima kasih,
saya langsung pergi ke warung untuk membeli jajan sagu sagu, kacang polong dan bayar
hutang.
Beres.
Hanya segampang itu saya meminta uang
jajan pada masa kecil dulu. Hanya butuh beberapa menit saja saya sudah
mengantongi uang jajan dan tidak pernah timbul pikiran apa-apa.
Mari beralih pada saat saya duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama. Untuk masalah uang jajan pada saat saya SMP,
orang tua saya memberikan uang jajan kepada saya per hari. Setiap pagi orang
tua saya meletakkan uang jajan saya ke dalam tas. Kecuali kalau hari libur uang
jajan saya biasanya tidak diberikan.
Kebutuhan waktu SMP sendiri pada saat
itu sudah pasti meningkat dibanding ketika duduk di bangku SD. Ada beberapa
tambahan pengeluaran seperti; uang beli buku, uang makan nasi kuning atau mie
siram , sampai uang iuran kelas. Biasanya saya dikasi Rp. 5000/hari
Tetapi semua biaya tersebut sudah dijadikan
satu di uang jajan harian saya. Terkecuali kalau memang uang harian saya
benar-benar habis dan harus ada pengeluaran lagi, saya terpaksa harus meminta
ke orang tua saya untuk memberi uang jajan tambahan untuk kebutuhan tersebut.
Di jenjang SMP, uang jajan masih
belum terlalu menjadi masalah bagi saya. Semuanya masih santai-santai saja
karena setiap harinya uang jajan saya sudah tersedia di atas laci. Walaupun
untuk uang jajan tambahan pun saya masih belum ada masalah untuk meminta
tambahan ke orang tua. Semuanya lancar-lancar saja.
Beranjak ke SMA…
Kita semua tahu kebutuhan uang jajan
anak SMA pasti akan meningkat drastis. Pada waktu SMA dulu, uang jajan saya masih
sistem harian. Kebutuhannya membuat uang jajan tambah banyak sehari. Mana
itu uang pete’ pete’. Uang iuran dan kebutuhan mendadak. Saya diberi Rp.
15.000/hari.. dari Rp. 5000/ hari ke Rp. 15.000/ hari??? -_-
Disisi lain, kebutuhan internal
keluarga juga meningkat. Harga pokok dan lauk pauk melambung naik. kakak saya
juga sudah mulai melanjutkan S2 nya dan butuh biaya banyak juga. Jadi orang tua
saya sedikit sensitif ketika saya meminta uang jajan tambahan.
Pada masa ketika saya SMA, meminta
uang jajan yang kurang itu tidaklah semudah seperti dulu. dulu ketika masih
duduk di bangku SD, dan SMP, meminta uang jajan tambahan kepada orang tua masih
tergolong mudah. Terlepas dari itu, ketika minta uang jajan pun masih belum
timbul perasaan apapun. Hanya perasaan senang saja setelah diberikan uang jajan
oleh orang tua saya.
Tetapi ketika menginjak SMA, terlebih
lagi ketika SMA kelas 3 sampai sekarang, ada sebuah perasaan yang mengganjal
bahkan sebelum saya meminta uang jajan tambahan.
Agang pernah tidak, ketika meminta
tambahan uang jajan ke orang tua, kemudian ketika ingin melakukannya, Agang tidak
jadi karena ada perasaan tertentu yang bergejolak di dalam dada dan pikiran Agang
:P?
Itu yang saya rasakan.
Dulu minta uang jajan tidak pernah
timbul rasa malu. Entah kenapa rasa malu ini muncul ketika saya sudah seperti
sekarang dan masih saja meminta uang jajan kepada orang tua saya.
Untuk sekedar bilang, “Mak, aku minta
uang” Itu sekarang berat tidak seperti dulu.
Bahkan ketika sudah diberi pun saya
sedikit saja merasa senang dan lebih banyak merasa malu. Malu karena sudah
sebesar ini tapi masih saja meminta uang jajan ke orang tua. Malu karena masih
saja didepan orang tua terus dengan tangan dibawah.
Saya juga biasa merasa Sungkan kalau
minta uang. Kalau dipikir-pikir agak aneh juga bisa sampai sungkan hanya
sekedar untuk minta uang jajan tambahan ke orang tua. Tapi perasaan tersebut
benar-benar saya rasakan saat ini ketika akan meminta uang ke orang tua. Saya
tahu kalau jaman sekarang ini kebutuhan serba naik dan mahal. Itulah yang
membuat saya semakin sungkan untuk minta uang jajan, karena nantinya pasti
bakal lebih menyusahkan lagi dengan menambah beban pengeluaran mereka.
Semakin kesini saya semakin sadar
diri. Tidak selamanya saya akan terus meminta uang jajan ke orang tua. Tidak
selamanya juga orang tua saya terus ada mendampingi saya dan terus membiayai
saya.
Bahkan sekarang sudah mau masuk
kuliah.//~~~
###
Percayalah Gang, tumbuh beranjak
dewasa itu tidak gampang. Bersyukurlah Agang yang saat ini masih menikmati masa
remaja. Nikmati saja dulu sebelum Agang nanti berada di fase beranjak dewasa.
Saya pasti yakin Agang semua akan
atau sudah ada yang mengalami hal yang sama seperti saya. Mau tidak mau harus
kita lewati,
Dibikin santai saja, gang.
Tags
Fafifu
waktu ane SD dulu uang jajannya masih berlaku uang recehan, Uang 25 rupiah...hehehe
BalasHapusWahh.. memang dulu kalau diliat dari sekarang jajanannya murah murah..
HapusSD Cuman jajan 3.000 Rupiah, #plakkk
BalasHapusYang penting jajan teruss
Hapuskalau gw sih kecil cuman 5000 rp buat jajan sampe pulang nyokap :v
BalasHapusUdah dapat banyak banget itu
HapusWaktu saya sd uang jajan saya hanya 2000 rupiah
BalasHapusAku juga
Hapus