Makalah Agama Tradisi Islam Di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa tradisi Islam kita warisi sampai sekarang, antara lain
ziarah ke makam, sedekah, sekaten. Setiap daerah dimana Islam masuk
sudah terdapat tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan
Budha adapula tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di
Sumatera, di daerah lainpun para muballigh memilih mempertahankannya namun
dengan meberikan warna Islam.
1.2 Permasalahan
Apa tradisi islam di nusantara?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui sejarah
tradisi islam di Indonesia.
2.
Menambah wawasan.
3.
Memenuhi tugas mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tradisi
Tradisi islam di nusantara adalah sesuatu yang menggambarkan tradisi islam
dari berbagai daerah di indonesia yang melambangkan kebudayaan islam dari
daerah tersebut.
2.2 Tradisi dan seni
bernuansa islam di nusantara
Setiap daerah dimana islam masuk sudah terdapat masing-masing. Ada yang
merupakan pengaruh hindu dan budha adapun tradisi asli yang sudah turun
temurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah lainpun para mubaligh memulai
memilih mempertahnkannya namun memberikan warna islam.
Berikut ini beberapa tradisi Islam yang ada di Indonesia:
1.
Ziarah
Ziarah adalah kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang
bersama dengan tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di
sebuah makam melaksankan ziarah dengan cara melakukan berbagai
kegiatan. Kegiatan tersebut adalah membaca Al Quran atau kalimat syahadat
dan berdoa.
2.
Tahlilan
Tahlilan adalah upacara
kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca surat Yasin dan
beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil
(laailaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah). Biasanya
diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT (tasyakuran) dan
mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1000
dan khaul (tahunan).
Tradisi ini berasal dari
kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu kenduri, selamatan dan sesaji.
Dalam agama islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung unsur
kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau laut pauk yang
bisa dibawa pulang oleh para peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah Sunan
Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut karena
harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka kembali ke agamanya.
3.
Sekaten
Sekaten adalah upacara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di
lingkungan Keraton Yogyakarta atau Maulud. Selain untuk Maulud sekaten
diselenggarakan pula pada bulan Besar (Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan
Sekati diarak dari keraton ke halaman masjid Agung Yogya dan dibunyikan siang-malam sejak seminggu sebelum 12 Rabiul
Awwal. Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi pesan
tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat atau
syahadatain, kemudian menjadi sekaten. Syair lagu berisi pesan tauhid dan
setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat sahadat atau syahadatain,
kemudian menjadi sekaten. Perayaan Sekaten dikenal di Yogyakarta, Surakarta,
Jawa Timur, dan Cirebon.
4.
Grebeg Maulud
Grebek Maulud merupakan bagian dari rangkaian acara Grebeg Keraton yang
rutin diadakan pada setiap tahunnya. Grebeg Keraton sendiri merupakan upacara
adat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan sebagai kewajiban sultan untuk
menyebarkan serta melindungi agama Islam. Nama grebeg berasal dari peristiwa
miyos atau keluarnya dari dalam istana bersama keluarga dan kerabatnya untuk
memberikan gunungan kepada rakyatnya. Pada malam tanggal 11 Rabiul Awwal
ini Sri Sultan beserta pembesar kraton Yogyakarta hadir di masjid Agung.
Dilanjutkan pembacaan pembacaan riwayat Nabi dan ceramah agama.
5.
Takbiran
Takbir adalah seruan atau ucapan Allahu Akbar 'Allah Mahabesar': menjelang
Idhul Fitri dan Idhul Adha. Takbiran dilakukan pada malam 1 Syawal (Idul
Fitri) dengan mengucapkan takbir bersama -sama di masjid/mushalla ataupun
berkeliling kampung (takbir keliling).
6.
Muludan
Muludan adalah peringatan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan mengadakan Muludan. Peringatan ini
dipelopori oleh Sultan Muhammad Al Fatih untuk membangkitkan semangat pasukan
Muslim pada perang Salib. Peringatan maulid Nabi sebenarnya tidak diperintahkan
oleh Nabi melainkan budaya agama semata. Di Indonesia peringatan ini
dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari Presiden sampai rakyat di
desa. Kegiatan ini diisi dengan pembacaan riwayat Nabi (Barzanji) maupun
kegiatan lainnya seperti perlombaan.
7.
Tabut/Tabuik
Dilaksanakan pada hari Asyura (10 Muharram) untuk memperingati
pembantaian Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah) oleh
pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbela. Dilakukan dengan mengarak usungan
berwarna-warni (tabut) di pinggir pantai kemudian dibuang ke laut lepas.
Pengarakan biasanya dilaksanakan setelah terlaksananya acara lainnya dengan
menghidangkan beraneka macam hidangan makanan. Upacara ini dilaksanakan secara
turun temurun di daerah Pariaman (Sumatera Barat) dan Bengkulu.
8.
Adat Basandi Syara
Syara Basandi Kitabullah, Masyarakat Minangkabau dikenal kuat dalam
menjalankan agama Islam, sehingga adat mereka dipautkan dengan sendi Islam
yaitu Al Quran (Kitabullah). Adat Minangkabau kental dengan nuansa Islam sehingga
melahirkan semboyan adat basandi syara, syara basandi Kitabullah (Adat
bersendikan syara dan syara bersendikan Kitab Allah).
9.
Seni Tradisi Genjring
Seni tradisi disini banyak ditemukan di daerah Purwokerto, dan Banyumas
pada umumnya. Di kalangan masyarakat Banyumas, kesenian ini tradisi ini lebih
banyak ynag berbasisi di mesjid. Pada masa lalu, kesenian ini cukup efektif
untuk melakukan pembinaan generasi muda, karena hampir setiap malam anak-anak
muda bertemu di mesjid. Namun saat ini kesenian ini sedikit demi sedikit mulai
ditinggalkan kaum muda, sehingga jumlahnya didominasi kaum tua (50 tahunan).
Dalam seni tradisi islam ini, syiiran shalawat dilantunkan secara rampak
dengan diiringi tabuhan rebana, tanpa tarian. Oleh masyarakat lokal, tabuhan
rebana ini disebut genjring hal ini mungkin dimaksudkan untuk mendekati bunyi
rebana yang mirip bunyi “jring”, orang bilang “ genringan”. Seperti halnya kesenian
islam lain yang memberikan puji-pujian bagi Nabi Muhammad SAW.
Kesenian ini di msayarakat Banyumas seringkali digunakan untuk mengarak
sunatan. Dalam prosesi ini, gengring dilakukan sambil jalan beberapa ratus
meter menyambut datangnya pengantin sunatan yang datang dari tempat disunat
tersebut. Si anak dinaikkan di becak yang telah dihias, yang kemudian
dibelakangnya diikuti para pemain genjring. Menurut keterangan masyarakat
Purwokerto dan Banyumas hal ini dimaksudkan selain untuk mnambah kemeriahan
pesta, mengurangi rasa sakit pada si anak (karena keramaian tertuju pada
keramaian), juga dimaksudkan dengan adanya hikmah dari pembacaan sholawat
tersebut.
Kesenian ini biasanya dimainkan antara 12 sampai 30 orang. Penabuh terbang
bisa bergantian dan nyanyian dilakukan secara serempak dengan menggunakan
bahasa arab.
10. Kesenian singiran
Kesenian ini sangat jarang ditemui karena semakin punah, seiring kemajuan
jaman, meninggalnya para pelakunya, dan sengaja di counter kelompok tertentu
(islam modern) karena dianggap ada penyimpangan dari islam. Kesenia singiran
merupakan salah satu bagian integral dari ekspresi seni tardisi umat islam.
Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati seribu hari
kematian salah satu warga. Jika dilihat dari isinya, seni tradisi ini berisikan
nasihat-nasihat bagi si mayat dan nasehat kebaikan bagi anak cucu yang masih
hidup untuk selalu mendoakan orang tua mereka. Kelompok kesenian ditemukan
salah satunya di daerah Tamantirto,
Kasihan,Bantul,DIY. Kelompok ini menamakan keseniannya sebagai “singir
ndajaratan” yang artinya “tembang kematian”. Selain menarasikan nasehat-nasehat
kebaikan kesenian ini jud=ga dapat dimaksudkan sebagai upaya untuk mendoakan
para leluhur melalui pembacaan narasi syiiran. Kesenian semakin digerus oleh
persperktif islam modenis dan banyak digantikan dengan tahlil dan yasianan.
Kesenian ini tidak menggunakan alat musik, namum diiringi tahlil bersma
sepanjang pembacaan singir-singirnya. Sedangkan irama atau langgam singir
digunakan langgam-langgam macapat. Secara garis besar kesenian ini diawali
pembacaan tahlil, kemudian bacaan singir secara bergantian, dan kemudian
pembacaan sholawat (srokal) serta diakhiri doa.
11. Sholawat Jawi
Kesenian sholawat ditemuka di daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga
sudah menyebar di sekitar kecamatan Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten
Bantul. Kesenian ini merupakan salah satu bentuk ketegasan jawanisasi kesenian
islam. Kesenian yang berkembang seiring dengan tradisi peringatan maulid nabi
ini mengartikulasikan syair atau syiiran shalawat kepada nabi Muhammad dengan
medium bahasa jawa, bahakan juga dengan melodi-melodi jawa.
Kyai soleh yang menyebabkan tembang-tembang berbahasa jawa yang sampai saat
ini tulisannya menjadi pedoman para pelaku seni sholawat jawi, meskipun beliau
sudah lama meninggal.
12. Isra’ mi’raj Rasulullah
saw.
a. Isra’ (Perjalanan dari
Masjidil Haram ke Masjidil Asqha)
Sepanjang perjalanan itu Rasulullah ditemani oleh Jibril as dan Israfil as.
Tiba di tempat-tempat tertentu, Rasulullah diarahkan oleh Jibril supaya
berhenti dan bersembahyang dua rakaat. Secara etimologis, isra’ berarti
berjalan pada waktu malam atau membawa berjalan pada waktu malam. Dalam kajian
sejarah islam isra’ berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad saw. pada malam
hari dalam waktu yang amat singkat dari masjidil Haram di makkah ke masjidil
aqsha di Yerussalem. Tempat-tempat berkenaan adalah Madyan dan Tursian, yaitu
tempat nabi Musa a.s. berbicara dengan Allah; Baitul-Laham (tempat Nabi Isa
a.s. dilahirkan).
Dalam perjalanan tersebut juga baginda Rasulullah saw. dapat menyaksikan
peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib, diantaranya:
1.
Kaum yang sedang
bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. Apabila dituai, hasil yang baru
keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang –ulang.
Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah kaum yang berjihad fisabilillah
yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahakan sehingga
gandaan yang lebih banyak.
2.
Tempat yang berbau
harum. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah bau kubur Masyitah
(tukang sisir rambut anak Fir’aun ) bersama suami dan anak-anknya (termasuk
bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh Fir’aun
karena tetap teguh beriman kepada Allah ( tak mau mengakui Fir’aun sebagai
tuhan).
3.
Sekumpulan orang yang
sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh
kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Rasulullah saw.
diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk
bersujud (sembahyang).
4.
Sekumpulan orang yang
hanya menutup kemaluan mereka dengan miecebis kain. Mereka dihalau seperti
binatang ternak. Mereka makan bara api dan batu neraka jahannam. Rasulullah
saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat
harta mereka.
5.
Satu kaum, lelaki dan
perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada
disisi mereka. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah lelaki dan
perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan tersebut
masing-masing sudah mempunyai istri/suami.
6.
Lelaki yang berenag
dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril
: itulah orang yang makan riba.
7.
lelaki yang menghimpun
seberkas kayu dan dia tidak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang
lain. Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang tak dapat
menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
8.
Satu kaum yang sedang
menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap
kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Rasulullah saw.
diberitahu oleh jibril : itulah orang-orang yang membuat fitnah dan mengatakan
sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
9.
Kaum yang mencakar muka
dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Rasulullah saw. diberitahu oleh
jibril : itulah orang yang memaka daging manusia dan menjatuhkan martabat
orang.
10.
Seekor lembu jantan yang
besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu
Rasulullah saw. diberitahu oleh jibril : itulah orang yang bercakap besar.
Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.
11.
Seorang perempuan dengan
dulang yang penuh dengan berbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya.
Kata jibril : itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya,
niscaya umat islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
12.
Seorang perempuan duduk
di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah saw. tidak
menghiraukannya. Kata jibril : itulahorang yang menyia – nyiakan umurnya sampai
tua.
13.
Tiba di masjid Al-Aqsha,
Rasulullah saw. turun dari buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimami
sembahyang dua rakaat dengan seluruh anbia’ dan mursalin menjadi ma’mum.
14.
Rasulullah terasa
dahaga, lalu dibawa jibril dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah
memilih susu lalu diminumnya. Kata jibril : Baginda membuat pilihan yang betul.
Jika arak dipilih, niscaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
b. Mi’raj (naik ke Sidratul
Muntaha)
Adapun kata mi’raj artinya adalah
tangga sebagai alat untuk naik atau semacam alat untuk naik dari bawah ke atas,
menurut istilah dalam islam mi’raj adalah perjalanan pribadi nabi muhammad saw.
naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ke tujuh
dan sidratul muntaha.
Didatangkan mi’raj yang indah dari syurga. Rasulullah saw. dan Jibril as.
Naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
Langit pertama:
Rasulullah saw. dan jibril as. Naik ke langit pertama, lalu berjumba dengan
Nabi Adm as. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba dan harta anak
yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan
buruk.
Langit kedua:
Rasulullah saw dan jibril naik tangga langit kedua, lalu masuk dan bertemu
dengan Nabi Isa as dan nabi Yahya as.
Langit ketiga:
Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf as.
Langit keempat:
Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan nabi Idris as.
Langit kelima:
Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan nabi Harun as. yang dikelilingi
oleh kaumnya Bani Israil.
Langit keenam:
Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan nabi-nabi. Seterusnya dengan nabi
Musa as rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibril) lalu dapat melihat
umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70.000 orang yang masuk surga tanpa
hisab.
Langit ketujuh:
Naik tangga langit ke tujuh dan masuk langit ketujuh lalu ketemu dengan
nabi Ibrahim Kholilullah yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur dihadapi oleh
beberapa kaumnya.
Setelah beberapa melihat peristiwa lain yang ajaib, Rasulullah dan Jibril
masuk ke dalam Baitul Makmur dan salat.
Tangga kedelapan:
Di senilah yang disebut “Al-kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok
Sidratul–Muntaha. Rasulullah saw. melihat berbagai keajaiban pada pokok itu:
sungai air yang tidak berubah, sungai susu, sungai arak, sungai madu lebah.
Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi
permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan
itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah saw. dapat menyaksikan sungai
al-kautsar yang terus masuk ke surga. Seterusnya baginda masuk ke surga dan
melihat neraka beserta dengan malaikat malik penunggunya.
Malah dari tempat lebih tinggi dari langit tujuhlah, Allah menyampaikan
perintah mulia untuk Baginda dan umatnya,, yaitu mengerjakan shalat. Pada
mulanya, perintah shalat wajib itu menghendaki ia dilaksanakan 50 kali sehari
semalam tetapi selepas Nabi Musa menasihatkan Rasulullah supaya meminta
dikurangkan karena dia percaya umat Nabi Muhammad saw. tidak akan berdaya
melakukannya, akhirnya mendapat keringanan Allah swt untuk mengerjakan lima
waktu shalat saja. Selepas perintah shalat itu, Rasulullah kembali ke dunia dan
tiba di Makkah ke Palestina, kemudian naik ke langit dan lebih tinggi sebelum
menerima perintah shalat.
c. Selepas Mi’raj
Rasulullah turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis.
Lalu menunggang buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam
perjalanan ini Baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudian menjadi
saksi peristiwa Isra’-Mi’raj yang amat ajaib itu (daripada satu riwayat
peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rajab, kira-kira 18 bulan sebelum
hijrah). Wallahu a’lam.
Peristiwa isra’ dan mi’raj ini tidak akan dapat diyakini kebenarannya jika
kita bersandar kepada fikiran sahaja, tetapi hendaklah diyakini berdasarkan iman
dan pegangan kepada islam dan kebenaran Rasul. Sesungguhnya, mukjizat isra’ dan
Mi’raj memperlihatkan kekuasaan Allah swt.
13. Muharram
Tanggal 1 Muharram dalam kalender kaum muslimin sedunia telah tercatat
sebagai hari bersejarah dalam kehidupan mereka. Pada 1426 tahun lalu Umar Bin
Khattab, khalifah kedua telah mencanangkan 1 muharram sebagai awal kalender
kaum muslimin.
14. Halal Bihalal
Halal bihalal adlah kata yang sering diucapkan dalam suasana idul fitri
yang merupakan suatu istilah keagamaan yang hanya dikenal oleh masyarakat
Indonesia, kamus bahasa indonesia menggantikan “acara maaf memaafkan pada hari
lebaran” maka halal bihalal mengandung unsur silaturahmi.
Halal bihalal sebagai tradisi islam Indonesia tentulah akhir sejarah yang
di gali dari kesadaran tokoh-tokoh umat masa lalu untuk membangun jalinan
hubungan yang harmonis antara berbagai komponen umat untuk meluruskan
permasalahan umat islam menuju yang lebih baik.
15. Seni kaligrafi Al-Qur’an
dan Al-Hadits
Seni kaligrafi yang artinya karya tulis tangan indah hasil kreasi estetik
yang beguna untuk memenuhi kebutuhan jiwa muslim (rohani) dalam mencintai
Al-Qur’an dan As- Sunah Nabi. Karena keindahannya, seni kaligrafi ini dapat
difungsikan untuk hiasan, logo, stempel, sampul kitab, pesan-pesan tauhid dan
moral bagi kaum muslimin, penulisan ayat-ayat Al-Qur’an, dan masih banyak lagi
funsi-fungsinya.
Di Indonesia, seni kaligrafi ini telah berkembang mulai abad 12 masehi atau
semenjak kerajaan islam muncul dan berdiri dibeberapa wilayah Indonesia, sepaerti
Aceh, Demak, Ternate, Tidore, Maluku, Cirebon, Banten, Madura, Nusa Tenggara
barat, dan sebagainya.
Adapun corak atau gaya seni kaligrafi, yang berkembang di Indonesia, antara
lain, seperti gaya kufi, gaya naskhi, gaya Ri’ki, gaya Farisi, dan gaya Diwani.
Gaya kufi ini dibentuk oleh beberapa gaya geometris kaku dan matematik.
Biasanya digunakan untuk manghias masjid, gedung – gedung pemerintah,
tembok-tembok dingding istana raja, gapura masjid, majalah, benda-benda
senjata, dsb.
16. Hiasan
(ornament) Arabeska
Ragam hias Arabeska, yaitu jenis hiasan yang salin jalin menjalin simpai,
lilit melilit tumpang tindih seperti irama huruf Arab. Ragam hias ini
sebenarnya sederetan huruf arab, tetapi dibentuk seperti bentuk binatang,
manusia maupun buah-buahan, dan sebagainya.
17. Kasidah
Kasidah adalah bentuk syair epik kesustraan arab yang dinyanyikan. Penyanyi
menyanyikan lirik berisi puji-pujian untuk kaum muslim.
Lagu kasidah modern liriknya juga dibuat dalam bahasa indonesia selain
arab. Grup kasidah modern membawa seornag penyanyi bintang yang paduan suara
wanita. Alat musik yang dimainkan adlah rebana dan mandolin, disertai alat –
alat modern, misalnya biola dll.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Beberapa tradisi Islam kita warisi sampai sekarang, antara lain
ziarah ke makam, sedekah, sekaten. Setiap daerah dimana Islam masuk
sudah terdapat tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan
Budha adapula tradisi asli yang sudah turun temurun. Seperti halnya di
Sumatera, di daerah lainpun para muballigh memilih mempertahankannya namun
dengan meberikan warna Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Cholis, Mochammad.Dkk. 2010. Pendidikan Agama Islam. Malang:UM PRESS.
Tags
TugasPGSD
info yang bagus
BalasHapusTerima kasih
Hapusizin kopi kak,, ada tugas agama soalnya
BalasHapusIyaa boleh tapi jangan lupa cantumin sumbernya
HapusInformasi yang sangat membantu, trimakasih mbak
BalasHapusterima kasih kembali kak Andi
Hapus