Hari ini 10 Oktober 2022, trending soal world mental health yang membuat Saya refleksi untuk lebih mencoba menyayangi diri/ menenangkan diri walaupun masih kadang bertanya apakah sedang baik-baik saja? Pada postingan ini Saya akan menceritakan suatu hal yang pernah Saya rasakan dari tahun 2019.
⚠️⚠️⚠️⚠️
Awal mulai itu pas kerja skripsi bagian pengerjaan instrumen pada judul pertama sudah sering begadang bahkan tidak tidur, waktu kuliah juga pernah sesekali tidak tidur pas kerja media atau tugas lainnya tapi tidak seintens saat ngerjain skripsi yang bisa hampir setiap hari. Ya pola tidur awur-awuranlah. Karena pola tidur yang tidak menentu itu sepertinya berpengaruh merasa aneh pada diri. Karena keseringan begadang, tidak begadang pun jadinya tidak bisa tidur. Akibatnya berat badan turun, penurunan konsentrasi, jadinya sering blah bloh atau ngeblank, kalau misal bangun tidur pusing terus bayangan hitam muncul dulu (pengaruh tekanan darah atau bagaimanakah wkwk), sering ngerasa mudah capek padahal hanya jalan sebentar, ngilu ngilu kaya orang jompo saja hahah.
Selain itu kerasa juga kenapa kaya bawaannya sedih mulu kaya resah banget, mengira alasan pertama karena skripsi pertama tertolak akibat pandemi terus ganti judul, tapi kayanya tidak hanya itu. Kadang nangis tapi tidak tau apa yang ditangisin. Dulu masih ada sesuatu yang menjadi alasan excited; kalau sekarang, entah kenapa…biasa saja. Kalau ada kejadian sedih atau misalkan baca sesuatu yang harusnya menyentuh rasanya kaya hampa, rasanya seperti tidak bisa mengekspresikan perasaan. Tahu sedih atau bahagia tapi tidak bisa mengekpresikan dengan raut wajah, tidak mau bertemu orang bahkan keluarga sekalipun hanya bergelut dengan layer laptop dan hp mengerjakan skripsi ya… seketika menjadi “ansos”, suka di tempat gelap, makin sering overthinking, sering insecure, tidak percaya diri, apa-apa dikit cemas bahkan jari sampai tremor T_T, dan selalu bertanya-tanya
“Apa yang akan Saya lakukan hari ini? Besok? Atau lusa?”
“Tujuan hidup itu apa sebenarnya?”
“Kalau misal ngejar akhirat bukankah tidak perlu ngejar dunia lalu meninggal lebih cepat itu baik?”
dan banyak pikiran-pikiran lainnya. Seakan tidak memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai tapi bodohnya skripsi depan mata butuh perhatian untuk dikerjakan.
Akhirnya, merasa Saya takut dengan keadaan yang tidak seperti biasanya ini. Coba-cobalah untuk search di google, di website website seperti Alodokter, HaloDoc dll dengan memasukkan kata kunci gejala, terus iseng-iseng juga coba tes mental health yang dilakukan orang-orang millenial, memang bukan sesuatu yang bisa dianggap valid sih.
Tapi tentunya tidak ingin judge diagnosa dulu. Karena Aku pikir, mungkin hanya akibat stress biasa karena skripsi dan tujuan hidup setelah lulus ngapain layaknya umur ukuran segini lah yang nantinya akan membaik sendiri kalau misal sudah lulus. Dan wajar wajar kan kalau manusia itu sesekali mengeluh?
Pertengahan 2019. Buruknya makin menjadi-jadi kaya sering bilang ke diri sendiri
"Bodoh! Tidak mampu! Tidak cocok! Tidak bisa gapai mimpi-mimpi!"
Atau kata-kata negatif lainnya.
Sampai ged*rin kepala ke temb*k, nam*ar wajah sendiri, nusuk-nusuk tangan pake pulpen (karena merasa pada saat itu merasa sakit itu enak :), *inju dinding dan lemari biar lebih tenang (apa lebih baik ikut boxing saja ya :))). Benci, sebenci-bencinya sama diri sendiri. Seperti dibilang sebelumnya kayak rasa empati jadi kurang. Sisi lain kalau lagi baik masih bertanya tanya kenapa ya bisa sepeti ini? Agak aneh juga dilihat-lihat.
Aku rasa walaupun memang agak pendiam tapi perasaan tidak sebegitunya. Masih senang bercakap-cakap sama keluarga, teman, dan orang baru. Bahkan Mak ku sadar juga perbedaannya pernah bilang juga; dulu di SD cukup supel dan Aku masih ingat di SMP juga begitu. Ini kayak jadi orang yang betul-betul anti-sosial wkwk. Selain itu seperti tidak ada semangat untuk hidup. Bener-bener hidup segan, mati tak bisa. Inti masalahnya mungkin karena tak bisa menerima diri sendiri, keadaan yang terjadi pada waktu itu. Ah tak tahu, bingung 😕
Ditambah begadang mulu dan memang jam-jam segitu liarnya pikiran negatif datang. Hidup terasa lebih flat, kayak tidak ada keinginan ini, keinginan itu yang mungkin sebelumnya sudah ada list-list pencapaian. Pesimis parah, banyak takut, selalu cari aman. Sering mimpi buruk dengan rasa yang nyata O_o. Terus lucunya sering mengkhayal tapi rasanya nyata (?). Percaya atau tidak percaya. Pernah naik mobil terus kalau mendekat tikungan, mobil yang kutumpangi lurus saja bukan belok, lihat diri terbang lalu tiba-tiba jatuh ke aspal, pernah juga di kampus lihat diri sendiri nusuk*n pisau ke diri sendiri berkali kali. Selama itu kalau lagi ke kampus sering pake headset terus dengar apapun, lagu kah, radio kah, ceramah kah, surah surah kah, podcast kah dll biar tidak ingin lihat lagi hal-hal seperti itu. Agak serem juga, kalau sudah begitu tangan dibuat tremor terus keringatan.
Tidak jarang membandingkan diri sendiri. Berpikir lagi apakah diri tidak punya kelebihan lebih. Salah satu atau mungkin satu satunya cara lancar bersosialisasi saat itu tanpa ada kaya pandangan orang gimana itu di dunia virtual. Apalagi saat itu lagi pandemi pula lagi, tak bisa kemana mana. Jadinya apa karena Aku sudah cukup nyaman juga di virtual sampai sebenci itu dengan realita?
Kerasa makin tidak dekat dengan keluarga besar, kaya canggung. Kalau misal ada acara keluarga pasti dipojokan atau cari ruang sendiri wkwkw. Kalau kata Itachi Uchiha,
"Karna kita ga akan ngerti apa yang orang lain alami, pikirkan dan rasakan jika kita tidak merasakannya"
Begitu pula dengan Saya tidak tahu juga apa yang dialami orang lain dan mungkin orang lain juga mempunyai masalah yang mungkin lebih berat. Pikiran terus berisik sampai tidak melakukan apa apa. Pikiran kayak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, soal masa depan yang memang belum tentu terjadi dan rasa bersalah apalagi saat kakak menikah, itu orang lain pada sibuk acara, saya di kamar saja denger surah surah dan audio relaksasi lewat yutub hahah. Karena pikiran-pikiran negatif itu terus muncul kalau misal liat orang banyak seperti mereka ngeliatin sinis secara bersamaan. Aneh kan?
Mau jadi orang yang kaya tipe "yaudah" tapi overthinker parah. Overthinkingnya juga bukan pada dini hari jam 3 atau malam. Ini bisa terjadi kapan saja. Setidaknya kepercayaan diri itu ada walaupun kecil karena hal itu juga yang rada mengganggu kehidupan sosial. Mungkin kalau Agang baca agak dibilang drama. Saya juga kadang berpikir demikian kalau dalam mode mood dalam baik. Tapi memang itulah yang terjadi. Semua yang terjadi dihidup itu yang penuh di kepala semua kaya penyesalan. Jarang mengingat momen-momen yang membuat senang.
Pas presentasi ujian akhir 2021 ketahuan tremor sama dosen wkwk. Itu asli hari yang sangat menghabiskan banyak tenaga. Bahkan sempat berpikir waktu ujian seminar hasil kabur saja lalu menabr*kkan diri ke jalan depan kampus. Pulang-pulang langsung tidur sampai besok itupun mungkin hampir malam lagi baru bangun. Betul betul capek mental-fisik. Disitu mulai sangat lega lagi tu, mulai berpikir positif kalau hal-hal negatif yang dipikirkan bisa saja tidak terjadi. Tapi walau sampai Oktober 2022 sekarang masih rada ada. Kayak di postingan sambatan lainnya. Cemas dan takut masih ada.
Waktu Bulan Ramadhan-idul Fitri 2020 itu pula tidak ingin menemui siapapun, berkomunikasi dengan siapapun dan bahkan tidak ingin tahu apapun. Ada teman yang ziarah, tapi itu benar-benar hari tidak ingin bertemu. Bahkan saya tinggal sendiri di rumah, sementara keluarga lain ke rumah nenek di Majannang. Sangat minta maaf. Tidak tahu juga. Kalau mood baik jadi keingat merasa bersalah dan seharusnya tidak melakukan itu! Jadi mood kaya bisa berubah sebentar baik sebentar buruk. Sekalinya buruk tidak ingin ketemu siapa-siapa, tidak ingin ngobrol dengan siapa-siapa sekalinya baik kayak ya begitu. Aneh. Sifa aneh.
Pernah berpikir apa mungkin karena karma atau balasan dosa? Masih enggan bercerita tentang itu. Sering berandai sampai sekarang kalau misal tak terjadi mungkin tak seperti ini, kehidupan sosialnya mungkin lancar seperti halnya waktu SD dan SMP yang bisa dibilang cukup aktif, cukup supel lah, tidak takut orang lah. Mulai dari SMA baru kayak mulai menutup diri. Karena mungkin perkembangan umur juga dan pemikiran remaja-remaja awal.
Berat badan turun asli, pernah angkat kelapa, ngos-ngosan parah hahah. Sebenarnya tidak mengerti juga diriku ini kenapa, maunya apa, dan bagaimana. Dipikiranku saat ini dan jadi doa pas ultah juga hanya ingin tidur nyenyak saja dan semoga segala emosi yang mungkin muncul tidak membuat Saya berbuat fatal buat diri sendiri atau orang lain.
Saya berharap kita yang pernah merasakan sesuatu yang janggal pada diri sendiri setidaknya bisa menemukan isu dari kesehatan jiwa/ mental seperti menemukan apa titik masalah dari kesehatan fisik. Kita berharap mencoba selalu menanamkan untuk mulai bisa mengekspresikan pikiran atau perasaan secara nyata alias tidak selalu dipendam-pendam, sama belajar untuk mencintai ketenangan. Memang dalam hidup tak ada yang lempeng-lempeng saja. Kita bakal dibikin bingung dan dibikin stress untuk sampai ke tujuan sebenarnya. Tapi yakin saja apapun yang terjadi memang sudah ada jalannya sendiri yang bahkan diluar pikiran kita (plot twist).
Tags
Fafifu
