Halo
Agang, kita bertemu lagi! Semoga Agang belum bosan baca – baca postingan di
sini. :P nah, dikesempatan kali ini saya mau menjelaskan tentang masalah dalam
belajar.
Buat
Agang, yang sekarang masih menyandang status pelajar, kalau dipikir – pikir
belajar itu kayak makanan sehari – hari. Tentulah, sebagai manusia yang
menyandang status pelajar, lingkungan pasti menuntut Agang untuk rajin belajar,
mulai dari guru, orang tua, kakak, om, tante, kakek, nenek, dsb.
“Belajarlah
rajin – rajin. Jangan nonton terus! Kalau nilai sekolah mu bagus, kan bisa mama
banggakan saat majelis ta’lim nanti !,” kata mama – mama kebanyakan.
Mama
kita kebanyakan belum tahu kalau belajar / menyerap ilmu itu tidak semudah
menghabiskan makanan di balik tudung saji.
Belajar…
apalagi kalau belajar yang efektif itu memang tidak mudah, ada banyak sekali
masalah dan hambatannya. Dari niat untuk belajar saja sudah jadi masalah, belum
lagi kalau catatan kurang lengkap, masalah baru lagi. Bahkan, baru buka
buku halaman kata pengantar sudah
mengantuk. Iya, kan mengantuk itu merupakan masalah juga, terus kalau dipaksakan
juga pasti ujung – ujungnya sia – sia, coba dibaca tidak masuk – masuk,
langsung soal tidak ditahu mau jawab dari mana. Akhirnya? Ya nonton lagi!
Hahahaha…
Oke,
Agang cukup candaan garingnya, karena dalam postingan ini Saya mencoba untuk
lebih serius dengan Agang. Yaitu masalah dalam belajar.
1. Malas
Ini dia penyakit paling klasik yang sudah
menyebari umat manusia dari generasi ke generasi. Penyakit ini biasanya datang
tiba – tiba. Sudah tahu besok mau ulangan, tapi kenapa rasanya malas untuk buka
buku, malas kerjakan tugas, pokoknya malas sekali!
Biasanya, guru sama orang tua bilang
“Ayoo.. jangan malas belajar, mau jadi apa
kamu kalau diumur sekarang saja kamu sudah malas – malasan?”
Ya. Memang untuk bilang “Jangan malas!”
gampang sekali, tapi kalau penyakit ini sudah menyerang, memang susah rasanya
dilawan. Terus harus bagaimana?
Memang nasehat itu mau berapa kali didengar
tidak akan bikin kita tidak malas. Hal pertama yang harusnya dilakukan yaitu
identifikasi dulu apa masalahnya! Apa yang membuat kita menjadi malas belajar?
Atau secara umum, apa yang membuat kita
tidak niat untuk melakukan sesuatu? Apa yang membuat kita tidak ada dorongan
untuk melakukan sesuatu? Ya.. bisa macam – macam, tapi menurut Saya yaitu
karena kegiatan tersebut kita anggap tidak menarik, membosankan, tidak jelas
apa tujuannya, untuk apa, dsb.
Hal yang sama terjadi pada saat kita malas
belajar. Kenapa kita malas untuk membuka buku pelajaran? Kenapa beban rasanya
untuk mengerjakan tugas? Ya.. itu karena kita berpikiran kalau belajar itu
adalah kegiatan yang tidak menarik, membosankan, tidak jelas tujuannya, untuk
apa, dsb. Itulah pola pikir dalam pikiran kita yang menyebabkan kita malas.
Terus, kalau kita sudah tahu penyebabnya
terus bagaimana? Ya kita perbaiki. Caranya mengubah cara pandang kita bahwa
belajar itu suatu kegiatan yang menarik, mengasyikkan, bikin penasaran, bahkan
bisa bikin ketagihan!
Masalahnya, bagaimana cara kita merubah cara
pandang itu?
2. Belajar hanya mengejar nilai akademik
Apakah tujuan belajar itu hanya untuk dapat
nilai bagus? Membanggakan orang tua? Gampang cari kerja dengan gaji yang besar?
Dan hidup bahagia selama – lamanya?
Hihihi. Hidup tidak segampang itu. Sama
seperti belajar yang tujuannya tidak sesempit hanya untuk mendapat nilai yang
bagus saja. Kenapa belajar hanya mengejar nilai akademik itu termasuk masalah
belajar?
Pernah dengar tidak pepatah seperti ini:
“anak yang nilainya selalu bagus biasanya
kalah dalam hal kesuksesan karir, finansial, karya dsb dengan orang yang
nilainya saat sekolah itu biasa – biasa saja”
????
Percaya atau tidak kalau menurutku ada
benarnya juga. Tapi, bukan maksudnya kita jadi tidak boleh rajin belajar.
Maksudnya begini ketika kita belajar hanya untuk mengejar nilai akademik, kita
akan selalu terpaku pada satu indikator saja yang seolah – olah paling bisa yang
mencerminkan kesuksesan itu adalah dengan mendapat nilai yang bagus. Padahal bukan
hanya indikator itu saja yang harus kita pikirkan. Kalau kita hanya terpaku di
situ saja kita akan menutup kesempatan dan peluang untuk belajar Sesutu yang
jauh lebih berharga daripada sekedar nilai. Kita tidak akan belajar hal yang
manfaatnya jauh lebih melekat kedalam diri sampai bertahun – tahun.
Jadi, kita explore-lah lebih banyak hal yang
jauh lebih bermanfaat, mengembangkan bakat, hobby, menggali hal – hal yang
tidak dipelajari disekolah, dsb.
3. Mengutuk diri sendiri bahwa “saya memang
bukan anak yang pintar”
“saya memang dari dulu tidak pintar hafalan,
jadi Saya malas belajar sejarah dan nilai selalu jelek”
Ini juga merupakan salah satu masalah dalam
belajar. Ibaratnya, belum juga bertarung tapi sudah kalah duluan. Dengan
mengutuk diri sendiri seperti itu akan menjadikan itu sebagai alasan kita untuk
terima nasib dan tidak mau memperbaiki diri menjadi lebih baik.
4. Tidak suka sama mata pelajaran tertentu
Ada tidak pelajaran yang Agang tidak suka?
Sentuh bukunya saja malas, dengar langkah Sang guru masuk ke kelas saja rasanya
mengantuk. Kalau ada tugas maunya salin tugas teman, kalau ulangan menyontek,
kalau belajar selalu tunda – tunda. Lama kelamaan tambah menumpuk malasnya yang
membuat kita tidak ingin bertemu sama pelajaran itu.
Ini mungkin agak sulit untuk diatasi karena
kita harus melawan ego diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman. Alasan dari
masalah ini juga macam – macam ya.. seperti karena tidak suka dengan cara
mengajar gurunya, atau mungkin dari kecil kita disugesti oleh kakak, teman –
teman atau orangtua bahwa pelajaran itu susah dsb.
5. Cara belajar yang salah
Banyak siswa yang sebetulnya sudah rajin
belajar tapi dia belajar dengan cara yang salah. Pernah tidak Agang merasa
sudah mati – matian belajar tetapi tidak dapat apa – apa? Sudah belajar dari
siang sampai malam tetap ujian nilainya jelek, atau saat ditanya tiba – tiba
langsung tidak mengerti apa – apa. Berikut contoh belajar yang salah:
a.
Belum
mengerti konsepnya sudah mau coba latihan soal.
b. Sibuk hafal rumus, tahun, istilah, nama
orang dsb
Terus
bagaimana cara belajar yang benar? Ada namanya itu deliberate practice.
Deliberate practice adalah proses belajar yang menuntut pemahaman secara
mendalam lalu kemudian dilatih secara penuh untuk setiap elemen yang terkait
dengan ilmu tersebut.
Contohnya,
kalau Agang belajar sepak bola. Pertama harus melatih skill – skill yang dasar
dulu. Baru habis itu Agang belajar cara menggiring bola yang benar, cara tahan
bola yang benar, keterampilan kaki kanan dan kaki kiri, dsb. Lalu coba latihan
tanding sesekali, setelah itu evaluasi apa saja yang menjadi kelemahan Agang.
Ini bisa dicoba disemua mata pelajaran.
6. Semangat belajar yang tidak menetap
Kalau ini masalahnya dalam hal kedisiplinan.
Disiplin disini bukan dimaksudkan berarti harus tepat waktu, mengikuti jadwal
belajar. Tetapi, Agang konsisten dalam mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai.
Oke, ada tidak diantara Agang yang merasa
ada Salah satu, atau mungkin beberapa
atau malah semuanya dari daftar diatas yang merupakan masalah Agang dalam
belajar?

nice artikel lanjutkan ya
BalasHapusgood artikel sob , lanjutkan
BalasHapusjika lingkungannya bagus pasti kegiatan belajarpun bakal mudah diserap
BalasHapusKembangkan gan
BalasHapusbenar sekali gann belajar memang ga mudah, terutama malas menjadi hambatan paling utama
BalasHapusWah makasih, ada bener nya juga.
BalasHapus