Wahh.. siang yang seru
kayaknya…
Pernah merasa bingung
tentang keahlian apa yang sebenarnya kita punya? Sebenarnya saya jago apa? Saya
cocoknya nanti jadi apa? Saya suka ini, tapi juga suka itu.
Tidak heran, banyak anak
SMA yang galau kalau harus pilih jurusan. Pilih jurusan itu susah. Ada yang
pikir juga jurusan kuliah itu sembarang saja yang penting diterima, yang penting mak sama bapak bangga. Baru pas lulus bingung
mau kemana. Kuliah sudah teknik sipil, eh akhirnya kerjanya di bank. Mau
bagaimana lagi, daripada menganggur. Kalau saya tidak makan Agang mau tanggung
jawab?
Banyak orang yang begitu. Kita
terbiasa belajar banyak hal di sekolah. Mata pelajaran yang macam – macam.
Bahasa inggris belum lancar disuruh belajar bahasa jerman atau bahasa arab. Banyak
yang beranggapan semakin banyak mata pelajaran yang kita tahu maka, semakin
pintar kita di masa depan. Padahal, saat hari H-nya kita bingung mau kemana. Ya
kita bisa melukis, bisa memasak, bisa bahasa Arab juga. Kan kita bingung mau
jasi seniman, koki, atau penerjemah?
Saya rasa banyak dari kita
yang dengar sekolah itu tidak menjamin masa depan seseorang menjadi berhasil.
Padahal, kita tahu kalau “pendidikan itu penting”.
Oke, Agang tahu kalau biaya
pendidikan itu tidak murah? Nah, agang capek – capek kuliah tapi kalau ujung –
ujungnya tidak ada yang didapat, buat apa? Nanti, pas mau kerja, bingung?
Banyak juga orang yang tanpa menempuh pendidikan formal justru bisa meraih
keberhasilan. Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
Mereka meminta semua mata pelajaran anaknya mendapat nilai bagus demi memburu
rangking 10 besar.
Sekarang ada istilah yang
baru saya tahu itu adalah “Jack of All Trades but Master of None”. Artinya
kurang lebih untuk orang – orang yang memiliki keahlian di banyak bidang, tapi
tingkat keahliannya kalau diibaratkan di game itu hanya sampai level medium.
Tidak sampai level Expert. Istilahnya belum menguasai satupun. Mungkin kita
dididik seperti ini.
Bayangkan, kita sudah dari
kecil dikasi banyak pelajaran. Secara kuantitas mungkin banyak tapi secara
kualitas masih jauh dibawah rata – rata. Berapa banyak dari kita yang masih
ingat pelajaran sekolah?
Mungkin ada desainer baju
seperti Bayu Santoso namun akhirnya
gagal berkembang karena dia terlalu sibuk memperbaiki nilai akuntansinya.

Mungkin bisa saja bangsa
ini banyak melahirkan generasi seperti Andre Surya, namun bukannya mengasah
kemampuan membuat animasinya, dia terlalu sibuk mengejar ketinggalannya dalam
hafalan sejarah.

Mungkin bisa saja Indonesia
juga punya banyak bakat seperti Christiawan Lie, namun terabaikan karena
terlalu sibuk belajar kimia.

Tapi, bisa saja
pengetahuannya dibanyak bidang justru yang menjadikannya lebih unggul daripada
yang lain. Mungkin, seperti Steve Jobs memiliki pengetahuan yang banyak sehingga
dia mampu membuat produk yang berselera tinggi terus inovatif.

Banyak orang juga yang
berusaha jadi orang lain. Mereka melihat pekerjaan orang lain dan menurutnya
bagus terus ikut – ikutan. Padahal, bukan keahliannya.
Jadi, intinya kita merenung
beberapa menit, sebenarnya apa bakat dalam diri kita? Karena, yang saya tahu
bakat yang ada di diri kita itu merupakan modal buat kedepan. Dan itu mengapa
kita harus menigkatkan skill kita. Terus kalau sudah di level expert bagaimana?
Sedangkan ilmu itu tidak habis – habis. Teruslah perdalam kemampuan itu. (macam
film film silat)..
Tapi, ada orang – orang yang hanya punya satu
bidang tetapi pengetahuannya benar – benar dalam atau kata lain dia sudah
berada di level Expert. Mereka pasti focus pada satu bidang. Jago olahraga?
Coba jadi atlet, jangan belajar akuntansi. kalau sudah focus pada satu hal yang
kita bisa dan suka, terus asah. Jangan cepat puas, karena masih banyak orang
yang lebih jago.
Coba meraih level expert
itu. Sekarang, bidang atau profesi apa yang Agang kuasai?

bermanfaat sekali info nya
BalasHapussangat bermanfaat thank's gan
BalasHapusThankss
BalasHapusEmang lebih baik satu aja biar fokus.
BalasHapus