contoh case study


             
           contoh Studi Kasus 1
Saya Ingin Lebih Bersahabat dengan Mereka
Oleh
Teuku Alamsyah
           
            Pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran di sekolah menengah dan tentu sangat jauh berbeda dengan pembelajaran di perguruan tinggi. Sebelum melaksanakan pembelajaran, saya sudah membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu, masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat dasar yang akan menjadi bekal bagi mereka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin bahwa kekeliruan yang dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak yang kurang baik bagi anak untuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
            Kamis, 24 Januari 2008, pukul 8.00 saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh. Sesuai dengan isi silabus semester 2, saya mengajar Keterampilan Menyimak terintegrasi dengan Standar Kompetensi: Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan, dan Kompetensi Dasar:  Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, dan   amanat). Dua hari sebelum pembelajaran berlangsung, saya menyiapkan RPP dengan memilih teks cerita “Mahjubah si Pemalas”.
            Awal saya berdiri di depan kelas, saya melihat wajah anak-anak yang polos menantikan sepatah kata pembuka dari saya. Terus terang waktu itu saya agak bingung bagaimana saya harus memulai. Bagaimana saya harus menyapa mereka. Hampir saja saya menyapa, “Saudara-saudara!” Namun, tentu saja itu tak jadi. Saya memilih sapaan, “Anak-anak kita bertemu kembali dalam pelajaran Bahasa Indonesia.” “Hari ini kita melanjutkan topik yang sudah pernah kita singgung pada pertemuan sebelumnya.” Ketika itu pula saya sadar telah melakukan ‘kebohongan’ karena kita memang belum pernah bertemu sebelumnya dalam konteks belajar-mengajar di kelas. Saya merasa mulai gugup. Namun, wajah polos anak-anak mengatasi kegugupan itu. Saya melanjutkan, “Anak-anak hari ini kita akan mendengarkan sebuah cerita yang berjudul “Mahjubah si Pemalas”. “Siapa di antara kamu yang tidak pernah mendengarkan cerita?” Tidak satu pun anak-anak menjawab. Saya melanjutkan, “Bapak yakin kamu semua pasti pernah mendengarkan cerita dan senang mendengarkan cerita.” (Semua anak duduk dalam kelompok yang tampaknya kelompok di kelas itu sudah permanen, satu kelompok 5 orang).
            Saya membagikan foto kopi teks cerita. Kebetulan pada salah satu kelompok,  teks yang saya bagikan berlebih dan serta-merta seorang anak mengembalikannya kepada saya sambil berujar, “Pak ini lebih, Pak.” “Oh, ya, terima kasih” Dalam konteks ini saya melihat nilai kejujuran pada anak. Pengetahuan saya tentang anak bertambah. Mereka benar-benar ‘anak manusia’ yang perlu mendapat didikan dengan benar.
            Pembelajaran berlanjut. Setiap kelompok saya minta mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat berdasarkan cerita yang mereka simak dan sekaligus mereka baca. Sebelum anak-anak bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat cerita,  saya mengajukan pertanyaan, “Siapa yang pernah menonton film?” (beberapa anak mengangkat tangan). “Bagus!” “Tampaknya di kelas ini semua anak pernah menonton film!” “Film apa saja yang pernah kamu tonton? (kelas hening, tidak ada yang menjawab). “Memang, kalau kita banyak menonton film, banyak film yang kita lupa judulnya bukan?” “Tidak apa! Yang penting semua anak pernah menonton film!” “Sekarang coba kita ingat film India. Pernah nonton film India?” Dengan bersemangat semua anak menjawab, “Pernah, Pak!” “Iya, bagus!” Dalam film ada banyak pemain. Pemain film ini disebut juga tokoh. Dalam cerita yang kita baca juga begitu. Ada pelaku cerita yang lebih dikenal sebagai tokoh cerita. Jadi, dalam cerita ada tokoh utama dan tokoh pembantu. (saya menjelaskan perbedaan tokoh utama dan tokoh pembantu). Selain itu, dalam teks cerita seperti halnya film, juga ada tempat dan waktu berlangsungnya kejadian. Inilah yang dikenal sebagai latar.Tidak itu saja, setiap pengarang dalam ceritanya ingin mengemukakan suatu pokok persoalan kepada pembaca. Inilah yang dikenal sebagai tema. Menikmati sebuah cerita belumlah lengkap jika pembaca belum dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan ini lebih dikenal sebagai amanat cerita dan biasanya disampaikan oleh pengarang tidak secara nyata. Tugas pembacalah menemukan sendiri pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dengan memahami alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat dalam cerita,  cerita yang kita baca akan memberikan makna bagi kita dan memperkaya batin kita.
“Nah! Anak-anak silakan bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat dalam teks cerita ‘Mahjubah si Pemalas’.” (semua anak tampak bersemangat bekerja) Namun, pada saat presentasi tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satu pun kelompok bersedia tampil memaparkan tugas yang sudah mereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa sedikit bernada pujian, saya membujuk mereka.”Anak-anak di kelas ini semuanya pinter. Semuanya mampu berbicara. Bercerita dan berbicara itu tidak jauh berbeda. “Silakan, Anak-anak!” Kita mulai dari kelompok I.  Setelah dibujuk-bujuk, kelompok I tampil menempelkan hasil kerja kelompoknya di papan tulis dan memaparkannya atau lebih tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain (sebagaimana skenario pembelajaran yang sudah saya rancang dua hari sebelumnya). Harapan saya adalah harapan hampa. Tidak satu pun anak dari kelompok lain bersedia berkomentar dan ini tidak bisa dibujuk. Akhirnya, sharing dalam bentuk diskusi tidak bisa berlangsung hari itu.
            Saya melanjutkan pembelajaran dengan meminta semua kelompok menempelkan tugas kelompoknya di papan tulis dan membacakannya. Setiap satu kelompok selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, penghargaan yang diberikan adalah tepuk tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Selain itu, saya juga merasa bahwa tidak semua anak dalam kelompok berpartisipasi penuh terhadap pembelajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpa ekspresi dan saya merasa ada ‘ketidaknyamanan’ dalam batin saya. Saya menginginkan semua anak terlibat penuh dalam konteks pembelajaran.
           Hal lain yang merupakan bagian dari ‘ketidaknyamanan’ saya adalah penggunaan papan tulis. Saya merasa tulisan saya di papan tulis yang cenderung berbentuk denah lebih tepat untuk konteks perkuliahan di perguruan tinggi daripada untuk anak SD (marilah kita mencermati berikut ini!).
          Dari segi penggunaan bahasa, saya juga merasakan bahwa saya harus sangat lebih banyak belajar bagaimana seharusnya berbahasa dengan anak-anak. Berbahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Saya sangat tidak berharap anak SD akan ‘dewasa’ sebelum saatnya tiba. Mereka masih anak-anak dan biarlah tetap anak-anak. Biarlah mereka menikmati dunianya, dunia kanak-kanak dengan ragam bahasa kanak-kanaknya. Saya merasa bahasa saya cenderung tinggi untuk konteks pembelajaran di tingkat dasar.    
            Meskipun saya merasa tujuan pembelajaran atau target pembelajaran pagi itu 90% tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu antara lain adalah (1) Bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) Apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? (3) Apakah bahasa sapaan saya dalam bentuk “kamu”, “kalian” terhadap anak-anak akan membekas dalam jiwa mereka sebagai bentuk sapaan yang kurang bersahabat? (4) Apakah pembelajaran saya tentang cerita “Mahjubah si Pemalas” memberikan makna tersendiri bagi anak-anak? Namun, saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum, sebuah senyum bahagia mendapat kesempatan bertemu anak-anak sekolah dasar karena saya pun pernah menjadi anak-anak.
            Di penghujung pembelajaran, sebagai refleksi saya ajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana anak-anak pembelajaran hari ini dengan Bapak Guru yang baru?” Jawaban yang diberikan oleh seorang anak kiranya sangatlah patut untuk kita renungkan bersama, yaitu “Kami senang Pak, karena Bapak tidak marah-marah”. Sebuah jawaban yang cukup jujur tentunya.

Contoh Studi Kasus 2
Mendengar Berita
Oleh  Fakriyah
Rabu, 23 Januari 2008,  saya mengajar pelajaran bahasa Indonesia di kelas VI.  Selain di kelas VI, saya juga mengajar bahasa Indonesia di kelas V. Di kelas VI, saya dipercayakan sebagai wali kelas. Siswa kelas VI berjumlah 28 orang dengan rincian: 12 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Sebagai wali kelas, yang tentunya dalam banyak hal saya memiliki kedekatan dengan mereka, saya berkesimpulan bahwa dalam konteks pembelajaran di kelas, hampir semua siswa kelas VI ini cenderung pendiam. Ketika dihadapkan pada kondisi menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan, mereka cenderung menunjukkan sikap enggan dan malu.
Pembelajaran bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan terdiri atas empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan mendengarkan/menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Rabu, 23 Januari 2008, jam I, saya mengajar bahasa Indonesia dengan Standar Kompetensi aspek mendengarkan, yaitu memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek, dan Kompetensi Dasarnya adalah menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Tujuan pembelajarannya adalah anak dapat menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Dalam pembelajaran tersebut, saya menerapkan metode pembelajaran kerja kelompok.
Kegiatan awal yang saya lakukan adalah menanyakan kepada anak tentang, “Pernahkah kamu mendengar berita di televisi atau radio?”  Siswa menjawab “Pernah, Bu!” “Nah, Anak-anak! Berita-berita yang kalian lihat dan dengar melalui televisi dan radio itu tentunya dapat kalian sampaikan lagi kepada orang lain, bukan?”
 Selanjutnya, saya membagikan teks bacaan berita aktual kepada setiap kelompok. (semua siswa di kelas itu sudah dibagi menjadi lima kelompok. Pembagian kelompok ini dilakukan pada awal tahun pelajaran dan bersifat permanen. Artinya, kelompok-kelompok ini bersifat tetap selama duduk di kelas VI). Saya meminta salah seorang siswa membacakan teks tersebut dan  siswa yang lain mendengarkannya.
Setelah itu, saya memberikan penjelasan kepada anak-anak bagaimana caranya kita menyimpulkan/mencatat pokok-pokok isi berita yang kita dengar di televisi dan radio.  Setelah kita mendengar isi teks bacaan tersebut, yang harus kita lakukan adalah menyusun dulu beberapa pertanyaan, yaitu:
  • Siapa yang diceritakan dalam berita tersebut?
  • Apa yang mereka temukan?
  • Di mana kejadian tersebut terjadi?
  • Kapan kejadian itu terjadi?
  • Apa yang dilakukan terhadap temuan itu?
Setelah memberikan penjelasan, saya memperhatikan wajah anak-anak. Dalam pandangan saya, anak-anak sepertinya sudah memahami penjelasan saya. Namun, saya tidak terlalu yakin karena masih terlihat beberapa anak berpura-pura mengambil pulpen untuk segera menulis. Selanjutnya, saya meminta anak-anak bekerja dalam kelompok masing-masing mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Saya memperhatikan anak-anak bekerja dalam kelompok. Teramati oleh saya beberapa orang anak seperti kurang bergairah dan kurang bersemangat dalam proses pembelajaran. Mereka tampak tidak bereaksi serius terhadap teks yang saya bagikan yang menjadi tugas mereka dalam kerja kelompok. Mereka lebih banyak diam dan tidak mempedulikan teks itu. Namun, ada juga beberapa orang anak yang tampak serius mencermati isi teks.
Sebelumnya, pada semester I, pelajaran mendengarkan isi berita sudah pernah diberikan. Akan tetapi, model pembelajaran yang saya terapkan waktu itu berbeda dengan model pembelajaran yang saya terapkan sekarang. Waktu itu, saya hanya meminta anak-anak menjawab soal-soal yang ada pada buku teks. Jawaban ditulis pada buku latihan masing-masing. Saya menyadari bahwa model pembelajaran yang demikian tidak bernuansa PAKEM. Jadi, dalam pembelajaran kali ini saya mencoba melakukan perubahan. Saya melaksanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok. Siswa bekerja menyelesaikan tugas dalam bentuk kerja kelompok. Harapan saya, dengan kerja kelompok suasana kelas menjadi tampak lebih hidup. Anak-anak menjadi lebih bersemangat. Akan tetapi, usaha saya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Suasana kelas tampak kaku dan jauh dari yang saya harapkan. Semua yang saya lakukan tidak mengubah suasana kelas yang kaku itu menjadi hidup. Timbul pertanyaan dalam batin saya, ”Apakah anak-anak bosan?”
Lebih lanjut, saya meminta setiap kelompok mempresentasikan/membaca-kan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Setiap kelompok yang selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, saya berikan tepuk tangan. Saya memperhatikan bahwa hanya beberapa orang anak yang mengikuti saya bertepuk tangan. Sebagian yang lain sepertinya bertepuk tangan pun terlihat enggan.
 Pada saat kelompok 5 membacakan hasil kerja kelompoknya, siswa yang oleh kelompoknya ditunjuk sebagai pembaca, secara kebetulan salah dalam membaca teks berita. Akibatnya, dia ditertawakan oleh kelompok lain sehingga suasana kelas menjadi ribut.  Saya menenangkan anak-anak agar kembali fokus pada pelajaran dan tidak boleh menertawakan teman yang salah. Saya mengatakan, “Jangan tertawa kalau teman salah membaca ya? Dia pasti tidak sengaja.”
Setelah itu, saya mengatakan kepada semua anak bahwa yang mereka bacakan di depan adalah pokok-pokok isi berita yang didengarnya tadi. Selanjutnya, saya menyuruh anak-anak menyimpulkan pokok-pokok berita tersebut ke dalam beberapa kalimat (menjadi satu alinea) di buku latihannya masing-masing.
Saya merasa puas terhadap pembelajaran hari itu karena tujuan pembelajaran yang saya harapkan tercapai meskipun hanya 90%. Namun, ada ganjalan di hati saya, “Mengapa anak-anak kurang bergairah, padahal saya sudah merancang kegiatan belajar-mengajar agar anak bergairah dalam mengikuti pelajaran.”


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama